Apa kabar Bapak?
Malu sebenarnya aku menyapa kembali Bapak setelah tiga tahun hilang tak memberi kabar atau pun menanyakan kabar Bapak. Malu sebenarnya karena aku belum bisa menjadi orang yang meneruskan perjuangan Bapak. Belum bisa menjadi orang yang dibanggakan Bapak. Padahal Bapak telah mewariskan ilmu dan semangat Bapak.
Bapak di Palu baik-baik saja kan? Bagaimana dengan Ibu? Aku takut sekali Ibu menegurku seperti waktu itu, karena aku terlambat menengok Bapak di Rumah Sakit. Sedih rasanya membayangkan Bapak yang terbaring kaku, dingin, dan kurus di ruang ICU. Aku tak pernah mengira Bapak akan seperti itu. Aku selalu ingat Bapak yang gagah menungguku di depan rumah, dengan senyum ramah, dan sapaan yang hangat. Bapak langsung menerima kehadiranku padahal aku orang asing bagi Bapak.
Apa Bapak tahu, selama tiga tahun ini aku mencari kabar Bapak di portal berita online. Namun aku terlalu pengecut untuk menghubungi Bapak langsung. Ya, aku takut Bapak kecewa karena aku tak meneruskan perjuangan Bapak. Aku mundur, Pak. Aku menyerah sebelum berjuang.
Bapak, mendengar banyak hal dari Bapak tentang politik dan media massa membuatku membenci kedua hal tersebut. Aku sadar kenyataan tak semuluk teori-teori yang aku pelajari. Apalagi saat aku lihat Bapak diinjak-injak oleh media massa. Mereka tak berhenti memberitakan hal-hal buruk tentang Bapak, padahal aku tahu Bapak adalah orang baik. Aku sedih, kecewa, dan marah kenapa banyak media massa yang buta. Apa bedanya mereka dengan tukang gosip yang cuma mendengar katanya si A dan katanya si C lalu menyimpulkan semua dengan mata tertutup.
Aku belajar selama empat tahun untuk menjadi besar di media massa, tapi aku terlanjur muak dengan pemberitaan mereka setiap saat. Sampai pada akhirnya aku memilih jalan lain, Pak. Aku hanya ingin jadi orang sederhana yang bermimpi tentang kedamaian dan keadilan. Aku tuliskan harapan dalam fiksi, aku sembunyikan fakta dalam fantasi, dan berharap suatu saat nanti aku bisa meneruskan perjuangan Bapak melalui jalan yang berbeda. Mungkin dengan menyusup ke hati kecil mereka.
Ya, aku tahu Bapak telah mencoba merubah jalan berpikir mereka dengan buku-buku Bapak, tapi sepertinya mereka terlalu malas berpikir. Mereka hanya menjalani apa yang ada di depan mata, mengalir mengikuti arus sebelumnya, tak peduli dengan sistem dan aturan yang seharusnya ditegakkan. Mencari jalan pintas, mencari keuntungan, dan hanya memikirkan diri mereka sendiri. Itu sebabnya ketika Bapak mencoba merubah jalan pikir mereka, mereka akan berontak dan menghabisi Bapak. Aku tahu Bapak tak pernah ada niatan buruk pada orang lain. Bapak orang baik. Andai saja mereka dapat kesempatan sepertiku yang mengobrol banyak dengan Bapak, mereka pasti mengerti niatan baik Bapak.
Pak, sampai kapan pun Bapak adalah panutanku. Aku selalu mengagumi Bapak. Aku sayang pada Bapak. Ingat Pak, ketika Bapak pulang dari Rumah Sakit dan aku membawakan jeruk untuk Bapak? Ibu menyuruhku menyuapi Bapak dan Bapak makan dengan lahap. Sedih sebenarnya melihat Bapak yang biasanya berdiri dengan semangat menggebu-gebu, saat itu untuk duduk pun Bapak kesulitan.
Ya Tuhan... tolong jaga Bapak dan selalu sayangi Bapak. Aku hanya bisa mengirim doa dari jauh. Aku belum bisa menemui dan berlutut meminta maaf pada Bapak. Semoga Bapak diberi kesembuhan dan kebahagiaan di Palu bersama Ibu. Semoga Tuhan memberi keberanian padaku dan juga anak didik Bapak lainnya untuk meneruskan perjuangan Bapak.
Aku harap surat ini sampai pada Bapak atau keluarga Bapak.
Salam,
Anak didik Bapak saat di Jogja
Hana Sisworini
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
surat yang panjang dan penuh kenangan, semoga suatu hari bertemu lagi ya. semangaattt
BalasHapus-ikavuje
surat aku panjang terus ya kak X) amin ya Allah
HapusWaktu ngmgin ICU, jd ingetin aku sm Alm bapak :(
BalasHapussedih mba lan.. aku juga masih ga nyangka klo inget Bapak di ICU. semoga Alm Bapak mba Lan sekarang lebih bahagia iia.
Hapus