Aku
kembali ke tempat itu, menemukan sepasang pinus. Di sela-selanya muncul seulas senyum
yang menarikku masuk. Ranting-ranting pinus tiba-tiba bergerak membuka jalan,
seperti tangan yang menyambutku. Perlahan aku melangkah menembus kegelapan, aku
tak dapat melihat dengan jelas
tapi aku merasa si pemilik senyum itu semakin dekat denganku. Si pemilik senyum
itu... aku yakin dia Ari!
Sepertinya dia masih
melangkah. Aku
dapat melihat bayangannya, tapi dia melangkah mundur! Jangan! Jangan pergi
lagi! Aku mohon kembalilah, Ri... Aku hendak mengejarnya, tapi ranting-ranting pinus yang kasar
mencengkramku. Dan
sayup-sayup aku mendengarnya berkata, “cintailah apa yang ada di
hadapanmu,
bukan di belakangmu.”
Aku
terbangun dan
menyadari semua itu hanya mimpi. Ini bukan pertama kalinya aku
memimpikan Ari. Dan bukan pertama kalinya aku tidak dapat
melihatnya dengan jelas.
Selama sembilan tahun aku kehilangannya, aku selalu kesulitan mengingat
wajahnya. Tapi aku juga selalu kesulitan menyingkirkannya dari hatiku. Semua
tentangnya tak pernah aku mengerti. Aku hanya merasa bahwa dia satu-satunya
orang yang aku cintai.