Pages

Selasa, 28 Juni 2016

Satu Sepatu Kaca


            Aku kembali ke tempat itu, menemukan sepasang pinus. Di sela-selanya muncul seulas senyum yang menarikku masuk. Ranting-ranting pinus tiba-tiba bergerak membuka jalan, seperti tangan yang menyambutku. Perlahan aku melangkah menembus kegelapan, aku tak dapat melihat dengan jelas tapi aku merasa si pemilik senyum itu semakin dekat denganku. Si pemilik senyum itu... aku yakin dia Ari! Sepertinya dia masih melangkah. Aku dapat melihat bayangannya, tapi dia melangkah mundur! Jangan! Jangan pergi lagi! Aku mohon kembalilah, Ri... Aku hendak mengejarnya, tapi ranting-ranting pinus yang kasar mencengkramku. Dan sayup-sayup aku mendengarnya berkata, “cintailah apa yang ada di hadapanmu, bukan di belakangmu.”
            Aku terbangun dan menyadari semua itu hanya mimpi. Ini bukan pertama kalinya aku memimpikan Ari. Dan bukan pertama kalinya aku tidak dapat melihatnya dengan jelas. Selama sembilan tahun aku kehilangannya, aku selalu kesulitan mengingat wajahnya. Tapi aku juga selalu kesulitan menyingkirkannya dari hatiku. Semua tentangnya tak pernah aku mengerti. Aku hanya merasa bahwa dia satu-satunya orang yang aku cintai.

Senin, 27 Juni 2016

Si Tali Sepatu Pink



 “Hahahaha ngaret lagi!” ledek Refan yang ikut berlari di belakangku.
“Lo sendiri?!” balasku kesal. Ini bukan kali pertamanya kita terlambat bareng. Setelah ini, kita pasti diledekin dan dengan gampangnya dia bilang kalau dia telat gara-gara ngejemput aku. PADAHAL aku telat karena naik angkot yang jalannya kayak siput!
“Ran, bentar deh…” katanya yang tiba-tiba berhenti berlari.
“Hah?” Aku berbalik dan melihat Refan lagi berdiri di depan seorang nenek lampir dengan kening berkerut dan membawa gunting di tangan kirinya! Aku menelan ludah yang rasanya menggumpal sebesar kelereng. Sekali lihat matanya, kamu bisa mendadak beku, bisu, bahkan bisul!