Aku tidak beruntung.
Tapi aku cukup tangguh menghadapi ketidak beruntunganku.
Siapa yang bisa memilih, kau lahir dari keluarga seperti apa, orang tua seperti apa. Jika melihat orang lain begitu mudah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Tidak denganku. Mungkin ini cara Tuhan sayang padaku. Dia ingin melihat hambanya berjuang, berurai air mata, menangis dalam sujud memohon keajaiban dan pengabulan doa. Mungkin ini cara semesta merangkulku dan menawarkan hujan yang turun sehari penuh, agar aku ingat caranya bersyukur.
Untuk mencapai sesuatu aku harus berjuang. Dan itu tidak mudah. Perjuangan yang harus selalu dimulai dari nol. Sejak aku kuliah, kerja, menikah hingga memiliki keluarga kecil seperti sekarang. Perjuangan yang kadang terhalang batu besar, hingga terjatuh jatuh dan tak jarang aku menyerah.
Bahkan ada yang merampas impianku. Mungkin itu salahku yang menyampaikan impianku pada dunia. Hana muda yang dengan bangga hanya bermodal impian lalu merasa percaya diri. Orang pertama yang merampas impianku, membangun sebuah brand dengan pelafalan nama mirip dengan brandku lalu dia kini sukses memiliki segalanya. Orang kedua yang merampas impianku, dia orang yang pernah menyukaiku, yang saat memintaku kembali dengan sombongnya aku bilang ingin melanjutkan sekolah ke Jepang. Kenyataannya disaat itu keluargaku sedang kacau, aku kehilangan impianku tanpa setitik kesempatan. Orang itu yang kemudian merampas impianku, dengan bangganya berada di Jepang di tengah salju seperti yang selama ini aku impikan.
Aku tidak beruntung.
Aku telah kehilangan impianku.
Aku telah jatuh sejatuh jatuhnya dan rasa ingin menyerah menghakhiri hidup. Lalu sebuah suara dari orang yang tak ku kenal memasuki kepalaku. Suara dari seseorang yang kusebut Neptunus, Sang Pemilik Lautan, dia memintaku bertahan. Tak lama setelah itu semesta mempertemukanku dengan suamiku. Cara yang unik. Tuhan hanya dengan menjentikan jari-Nya membuat yang tak mungkin menjadi mungkin. Aku pun perlahan bangkit dan memulai semua dari nol.
Kini aku menjadi seorang istri dan ibu dari dua orang anak. Aku bahagia dalam kesederhanaan. Seiring berjalan waktu, aku merangkai kembali impian baru. Impian untuk anak-anakku. Seperti saat ini aku ingin memberikan mereka rumah.
Sekali lagi aku tidak tahu apakah saat ini aku orang yang tidak beruntung dan cukup tangguh menghadapi ketidak beruntunganku atau aku telah menjadi orang yang beruntung?
Aku hanya berharap semesta baik padaku. Seperti saat Neptunus mengirimkan gambar lautan beserta deru ombaknya. Mengingatkanku bahwa Sang Pemilik Lautan masih ada. Memantau dari kejauhan bahwa aku baik-baik saja. Sekali lagi dia mengingatkanku untuk bertahan.
Tuhan aku mohon, semoga ada keajaiban untukku, untuk keluarga kecilku, untuk anak-anakku. Kau yang Maha Pencipta dari yang tak mungkin menjadi mungkin. Kau Perancang Terbaik skenario hidupku. Kuserahkan semua pada-Mu.
Aku sungguh tak tahu kali ini apa aku orang yang beruntung?