Seandainya bertemu kalian lima tahun yang lalu, aku tak akan melakukan banyak hal bodoh. Di depan kalian aku mengatakan apa yang tidak aku katakan pada orang lain, tentang keburukanku, lukaku, masa laluku, brengseknya aku, bahkan rasanya tandukku tak perlu lagi disembunyikan.
Kadang kalian membahas orang lain yang membuat kalian kesal dan marah, lalu aku datang mengatakan, "Aku juga kayak gitu loh!" Aku berharap kalian juga membenciku. Tapi sebaliknya, kata-kata manis yang kalian ucapkan. Hingga muncul lah Ratu Sarvara yang melontarkan kata-kata pedas, seperti cambukan tapi itu yang aku perlukan. Itu yang membuatku sadar.
Kalian luar biasa! Keluarga yang ajaib karena tak perlu sedarah, bahkan bertemu pun belum. Lalu kenapa aku merasa nyaman, terbuka dengan kalian? Karena kalian tidak berpura-pura baik dan juga menjadi diri kalian sendiri. Kalian tahu, aku sudah lelah berpura-pura baik. Apa yang aku katakan pada kalian, memang benar seperti itu. Aku banyak bercermin dan mulai menata diri menjadi baik.
Kamis, 21 April 2016
Selasa, 19 April 2016
Berfokus pada Impian
Benar kata Ka Ikavuje, aku tak boleh menggantungkan kebahagianku pada orang lain. Kalau orang itu pergi meninggalkanku? maka aku akan bersedih lalu bunuh diri? TIDAK! Kebahagiaan ada di tanganku dan Tuhan membantuku mewujudkannya! Aku punya Tuhan yang Maha Berkehendak! Aku tidak takut kebahagiaanku hilang jika aku berada di dekat-Nya. Aku akan menggenggam bahagiaku dengan erat.
Lalu bagaimana jika keadaan menjatuhkanku? Ingat kata MasWid, jangan menyerah pada keadaan. Ingat bagaimana aku ingin menyerah saat di Gunung Sindoro, tapi aku kembali bertekad dan terus berjalan. Ya, apa pun yang terjadi jangan berhenti melangkah. Jatuh. Bangun lagi. Tegakkan badan. Berjalanlah. Berfokus pada impian. Wujudkan impian dan jangan pernah menyerah pada keadaan.
Aku mungkin iri, melihat teman-temanku sudah berkeluarga, pelesiran ke luar negeri, atau kerja di perusahaan besar. Hei! Ingat lagi impianku! Membangun ruko LLOVER, menjadi seorang penulis novel, mendaki Gunung Jayawijaya, dan tentunya berkeluarga. Tuhan ternyata sedang memberiku waktu untuk mewujudkan impianku yang lain. Jangan habiskan waktu untuk iri pada orang lain!
Lalu bagaimana jika keadaan menjatuhkanku? Ingat kata MasWid, jangan menyerah pada keadaan. Ingat bagaimana aku ingin menyerah saat di Gunung Sindoro, tapi aku kembali bertekad dan terus berjalan. Ya, apa pun yang terjadi jangan berhenti melangkah. Jatuh. Bangun lagi. Tegakkan badan. Berjalanlah. Berfokus pada impian. Wujudkan impian dan jangan pernah menyerah pada keadaan.
Aku mungkin iri, melihat teman-temanku sudah berkeluarga, pelesiran ke luar negeri, atau kerja di perusahaan besar. Hei! Ingat lagi impianku! Membangun ruko LLOVER, menjadi seorang penulis novel, mendaki Gunung Jayawijaya, dan tentunya berkeluarga. Tuhan ternyata sedang memberiku waktu untuk mewujudkan impianku yang lain. Jangan habiskan waktu untuk iri pada orang lain!
Kamis, 14 April 2016
Cita-cita Athar
Sore itu selesai les Matematika, aku melihat sisa uang di sakuku. Aku menghela nafas, bersyukur masih bisa membeli sebotol air mineral. Saat akan berjalan ke kantin sekolah, ada dua orang pria bertubuh besar, berkulit gelap, dan menggunakan kaos hitam ketat. Mereka melewatiku. Aku mencoba mengabaikannya meskipun ada rasa penasaran, untuk apa mereka di sekolah sore-sore begini?
"Bu, beli air mineral satu," kataku pada Ibu kantin yang sedang berkemas.
"Eh, Athar baru selesai les? Ibu baru mau pulang," katanya ramah.
Aku mengiyakan lalu mengambil sebotol air mineral dari atas etalase dan menyerahkan uang pada Ibu kantin. Aku tiba-tiba teringat dua pria itu, jadi aku memutuskan mencari tahu apa yang mereka lakukan di sekolah. Semoga saja mereka bukan orang jahat, pikirku sambil membenarkan letak kacamata.
Mulai terdengar suara ribut seperti orang bertengkar dan tangisan. Jantungku berdetak kencang. Kakiku melangkah mundur. Kalau mereka orang jahat, aku tak mungkin melawannya. Semua guru juga sudah pulang. Kalau pun ada penjaga sekolah, dia sudah terlalu renta, dan tubuhnya sangat kurus. Kami berdua harus melawan dua pria berotot kekar, tinggi, dan besar? Itu tidak mungkin!
"Bu, beli air mineral satu," kataku pada Ibu kantin yang sedang berkemas.
"Eh, Athar baru selesai les? Ibu baru mau pulang," katanya ramah.
Aku mengiyakan lalu mengambil sebotol air mineral dari atas etalase dan menyerahkan uang pada Ibu kantin. Aku tiba-tiba teringat dua pria itu, jadi aku memutuskan mencari tahu apa yang mereka lakukan di sekolah. Semoga saja mereka bukan orang jahat, pikirku sambil membenarkan letak kacamata.
Mulai terdengar suara ribut seperti orang bertengkar dan tangisan. Jantungku berdetak kencang. Kakiku melangkah mundur. Kalau mereka orang jahat, aku tak mungkin melawannya. Semua guru juga sudah pulang. Kalau pun ada penjaga sekolah, dia sudah terlalu renta, dan tubuhnya sangat kurus. Kami berdua harus melawan dua pria berotot kekar, tinggi, dan besar? Itu tidak mungkin!
Rabu, 06 April 2016
Kelahiran Malaikat tak Bersayap
Tasikmalaya, 7 April 1969
Dia lahir dengan rupa indah bak malaikat. Semesta menyambut kelahirannya. Orangtuanya dengan hati-hati menjaga agar dia tak terluka, sampai dia tumbuh besar menjadi malaikat tak bersayap yang bercahaya. Pria layaknya laron yang datang menyergap. Namun dia dengan hati-hati menjaga perasaan mereka. Dia tak ingin melukai dan dilukai, hatinya baik dan putih.
Bukan kah Tuhan berkata akan menyatukan wanita baik dengan pria baik? Kini aku pertanyakan keadilan Tuhan. Kenapa Tuhan mendekatkannya dengan pria pengkhianat yang berkali-kali melukai hatinya yang putih? Bertahun-tahun orangtuanya menjaga agar dia tidak terluka, lalu pria itu datang dengan angkuhnya, dia bahkan tak merasa bersalah telah melukai.
Dia lahir dengan rupa indah bak malaikat. Semesta menyambut kelahirannya. Orangtuanya dengan hati-hati menjaga agar dia tak terluka, sampai dia tumbuh besar menjadi malaikat tak bersayap yang bercahaya. Pria layaknya laron yang datang menyergap. Namun dia dengan hati-hati menjaga perasaan mereka. Dia tak ingin melukai dan dilukai, hatinya baik dan putih.
Bukan kah Tuhan berkata akan menyatukan wanita baik dengan pria baik? Kini aku pertanyakan keadilan Tuhan. Kenapa Tuhan mendekatkannya dengan pria pengkhianat yang berkali-kali melukai hatinya yang putih? Bertahun-tahun orangtuanya menjaga agar dia tidak terluka, lalu pria itu datang dengan angkuhnya, dia bahkan tak merasa bersalah telah melukai.
Selasa, 05 April 2016
Kamu yang Telah Pamit
Surat untukmu yang telah pamit.
Aku tidak ingat kapan lagu ini ada di playlist-ku. Mungkin teman di grup WhatsApp yang mengirimnya. Saat pertamakali mendengarnya, aku langsung teringat kamu. Aku menangis, untungnya sebelum hujan turun. Karena aku masih memegang janjiku pada langit, aku tak akan menangis saat hujan turun.
Kamu yang telah pamit. Aku sudah berusaha melupakan dan membencimu. Rasanya tidak mudah. Aku selalu merasa seakan-akan mendengar suara kamu. Ingat betapa konyolnya kamu saat kecil dulu. Ingat semua pesan sepele yang kamu katakan sebelum aku tidur. Aku masih ingat semuanya.
Langganan:
Postingan (Atom)