Tasikmalaya, 7 April 1969
Dia lahir dengan rupa indah bak malaikat. Semesta menyambut kelahirannya. Orangtuanya dengan hati-hati menjaga agar dia tak terluka, sampai dia tumbuh besar menjadi malaikat tak bersayap yang bercahaya. Pria layaknya laron yang datang menyergap. Namun dia dengan hati-hati menjaga perasaan mereka. Dia tak ingin melukai dan dilukai, hatinya baik dan putih.
Bukan kah Tuhan berkata akan menyatukan wanita baik dengan pria baik? Kini aku pertanyakan keadilan Tuhan. Kenapa Tuhan mendekatkannya dengan pria pengkhianat yang berkali-kali melukai hatinya yang putih? Bertahun-tahun orangtuanya menjaga agar dia tidak terluka, lalu pria itu datang dengan angkuhnya, dia bahkan tak merasa bersalah telah melukai.
Malaikat tak bersayap telah melahirkan satu iblis dan dua manusia. Iblis yang mendendam dan menyimpan kebencian pada pria itu. Iblis ini yang akan menghukumnya dengan mantra dan akan menyeretnya ke dalam neraka paling dalam. Ingin rasanya lekas membunuh pria itu.
Lalu tangan lembut malaikat tak bersayap membelaiku. "Hapuskan dendam dan amarah. Tuhan Maha Adil, biarkan Dia yang menentukan hukumannya. Kau tak perlu menghukumnya. Dan jangan menghukum dirimu sendiri. Aku tak ingin kau tinggal di neraka. Kembali lah menjadi manusia. Kembali menjadi anakku. Lalu kelak kita berempat akan tinggal di surga yang kekal."
Aku menangis. Sayap iblisku, tanduk iblisku, perlahan lenyap. Belaian lembutnya mampu merubahku. Kata-katanya telah menyadarkanku. Keadilan Tuhan mungkin bukan terletak pada bersatunya wanita baik dengan pria baik tapi pada kelahiran anak-anak yang baik.
Aku tak akan biarkan siapa pun melukainya lagi. Dua adikku pun sama. Kami akan menjaganya dan tak akan biarkan seorang pun melukainya. Kami mencintainya.
Dari Iblis tak bersayap dan tak bertanduk.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar