Seandainya bertemu kalian lima tahun yang lalu, aku tak akan melakukan banyak hal bodoh. Di depan kalian aku mengatakan apa yang tidak aku katakan pada orang lain, tentang keburukanku, lukaku, masa laluku, brengseknya aku, bahkan rasanya tandukku tak perlu lagi disembunyikan.
Kadang kalian membahas orang lain yang membuat kalian kesal dan marah, lalu aku datang mengatakan, "Aku juga kayak gitu loh!" Aku berharap kalian juga membenciku. Tapi sebaliknya, kata-kata manis yang kalian ucapkan. Hingga muncul lah Ratu Sarvara yang melontarkan kata-kata pedas, seperti cambukan tapi itu yang aku perlukan. Itu yang membuatku sadar.
Kalian luar biasa! Keluarga yang ajaib karena tak perlu sedarah, bahkan bertemu pun belum. Lalu kenapa aku merasa nyaman, terbuka dengan kalian? Karena kalian tidak berpura-pura baik dan juga menjadi diri kalian sendiri. Kalian tahu, aku sudah lelah berpura-pura baik. Apa yang aku katakan pada kalian, memang benar seperti itu. Aku banyak bercermin dan mulai menata diri menjadi baik.
Kemarin saat sesi curhat, sebut saja Guru Liong yang mengatakan ini, "Dia itu riweuh. Terlalu meng-AKU-kan dirinya. Dia itu selalu berusaha untuk orang-orang di sekitar (termasuk yang lagi mendekat) ke dia untuk mengerti sikap dia yang cuek, keras kepala, dan bla bla bla. Tapi dia sendiri gak berusaha untuk mengurangi sedikit saja dari sifatnya tersebut untuk menjadi manusia lebih baik. Bukan berarti dia gak jadi diri sendiri. Kita kan hidup nggak sendiri. Saling menghargai."
Isthar menambahkan, "Ketika kamu serius sama orang, kamu berani berubah. Berubah di sini bukannya, tidak menjadi diri sendiri melainkan menekan ego agar bisa nge-blend sama orang yang disayang."
Setelah berjam-jam berlalu dan aku hanya menyimak, menunggu mereka memuntahkan semua komentar dan kata-kata bijaknya. Barulah aku muncul dengan cerita versi aku yang seakan-akan berpihak pada orang yang mereka bicarakan. Jelas aku berpihak padanya, karena aku seperti dia.
Aku bilang kalau aku ingin 'kepastian' dan itu ternyata memancing komentar Isthar. "Mau kepastian?? Tapi kalian berani beradaptasi nggak? Ga minta dikejar? Ga minta diratukan? Ga perlu sok ngetes? Berani blak-blakan? Ngomong berdua dari hati ke hati? Berani menerima segala resikonya??"
Aku kemudian tersenyum sendiri, ini yang aku perlu dengar. Seandainya aku memiliki 'Family Over Normal' seperti kalian lima tahun yang lalu dan mendengar petanyaan-pertanyaan itu terlontar, aku pasti mengambil langkah yang berbeda. Aku sudah melewatkan banyak hal. Banyak sekali!
Aku sungguh tak tahu apa yang ada di kepalaku dulu. Kenapa aku selalu ingin orang lain beradaptasi denganku, mengejarku, tapi tak pernah sekali pun aku jujur dengan perasaanku sendiri. Aku tak sisakan waktu untuk bicara berdua dari hati ke hati. Lalu aku begitu pengecut dan memilih pergi daripada menerima resikonya. Aku merasa kini semua terlambat, atau entah aku yang hanya merasa terlalu lelah.
Aku sungguh tak tahu apa yang akan terjadi di depan. Jika aku masih mendapatkan kesempatan jatuh cinta seperti saat usia 20 tahun, maka aku mencoba menjadi lebih baik. Lalu kemarin, apa aku tidak jatuh cinta? Aku jatuh, tapi entah karena cinta atau apa, aku hanya merasakan jatuhnya. Masih merasakan sakitnya. Mungkin karena itu kali pertama aku merasa lengkap dan merasa diratukan olehnya. Aku tahu, pemikiran ini salah. Maka aku tak akan berpikir seperti itu lagi. Aku janji pada kalian.
Thanks 'Family Over Normal'.
Kamis, 21 April 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Sebenarnya ada bnyk hal yg juga ingin q ungkapkan ttg aku dlm kacamata sempitku dalam FON. Tp aku sendiri enggan untuk bercerita ttg "aku". Aku Biarkan mreka menduga aku begini dan begitu (apa mksd klimat ini? Entahlah) krn aku mls untuk membuka diri. Aku mungkin telah terpesona akan posisi "aman"ku....membiarkan aku tetap begini adanya.
BalasHapusga laki cho -_- carinya posisi aman
Hapus