Langit kala itu biru terbentang tak berujung tanpa sebutir pun awan, angin berbisik padaku dan berkata, “Langit sedang sibuk mengumpulkan uap air, tak lama lagi akan terbentuk gumpalan awan yang tebal.”
Aku mengangguk paham. Aku berterimakasih pada langit karena melakukan proses evaporasi, kondensasi, hingga koalensi dengan begitu cermat. Itu bukanlah pekerjaan mudah.
Aku sudah bisa merasakan perubahan suhu akibat kondensasi. Sudut mulutku terangkat ketika mengamati awan yang bergejolak dipadati butiran air hingga beberapa bagiannya menghitam, kemudian melebar, dan semakin membesar saat terjadi turbulensi udara.
Tak lama lagi butir-butir air akan tertarik oleh gaya gravitasi bumi.
Rabu, 25 Mei 2016
Jumat, 20 Mei 2016
Sorotan Lampu Utama
Setiap orang bisa memilih panggung dan peranannya, namun aku atau pun kalian tak bisa selamanya menjadi peran utama. Maka, jangan sombong jadi manusia. Aku dan kalian pun tak akan selamanya menjadi pusat perhatian. Panggung ini hanya sementara, peranan yang kita mainnkan tak lebih dari skenario, bersikap sewajarnya dan abaikan sorotan lampu utama. Sorotannya membuat kita lupa dengan siapa kita berhadapan. Sorotoannya pun membuat kita buta pada siapa-siapa saja yang menonton dan bersorak membesarkan nama kita. Jadi jika lampu utama itu tak pernah ada, kau akan berada dalam terang seperti hal nya berdiri di bawah terik matahari, atau kau akan terjaga dalam malam tanpa setitikpun cahaya bintang dan bulan.
Semua pilihan ada di tanganmu.
Remah Roti
Bicara tentang remah roti, ini berarti bicara tentang masa lalu dan petunjuk.
Kau tebarkan remah roti di sepanjang jalan, seperti saat kau menuliskan cerita sehari-hari di dalam buku harian. Apa kau akan menemukan jalan kembali pulang ke masa lalu atau kau memutuskan berkeliling sampai rotimu habis lalu menetap di masa depan?
Selasa, 17 Mei 2016
Petani yang Menuai Benih
Di masa depan, ketika tak ada lagi tanah untuk menumbuhkan tanaman. Seorang pemuda bercita-cita menjadi petani. Cita-cita mulia itu terdengar sampai ke pelosok negeri dan menggugah hati seorang dermawan yang kaya. Dia lalu menawarkan sehektar tanah di pekarangan rumahnya.
“Kau punya tanah luas, tapi di sini tak ada satu pun tanaman?” tanya pemuda itu ketika menjejakan kaki di tanah yang kering dan berbatu. Dia melihat sekelilingnya, hanya ada gedung tinggi yang berlomba mencakar langit. Rumah pria dermawan itu berbeda dengan rumah lainnya, bergaya kuno dan bertingkat dua. Sedangkan rumah lainnya tinggi berdesain futuristik.
“Kau tahu sendiri kan, Dunia sudah berubah. Aku sangat ingin makan sayuran dan buah-buahan yang segar. Aku tak suka makan pil,” katanya.
“Kau punya tanah luas, tapi di sini tak ada satu pun tanaman?” tanya pemuda itu ketika menjejakan kaki di tanah yang kering dan berbatu. Dia melihat sekelilingnya, hanya ada gedung tinggi yang berlomba mencakar langit. Rumah pria dermawan itu berbeda dengan rumah lainnya, bergaya kuno dan bertingkat dua. Sedangkan rumah lainnya tinggi berdesain futuristik.
“Kau tahu sendiri kan, Dunia sudah berubah. Aku sangat ingin makan sayuran dan buah-buahan yang segar. Aku tak suka makan pil,” katanya.
Jumat, 13 Mei 2016
Miris dengan Pemberitaan tentang Anak
“Negara ini benar-benar darurat perlindungan anak dan perempuan."- Bang Anda
Satu kata untuk kejadian yang menimpa anak-anak saat ini yaitu “MIRIS”. Aku nggak bisa bayangin kalau itu menimpa anak-anak yang aku temuin di sini. Anak-anak yang polos dan lugu. Nakal mereka pun sewajarnya. Memang ada yang berniat mengambil pensil atau meminjam uang dan tidak dikembalikan. Tapi itu masih bisa diarahkan, agar tidak berlanjut dan menjadi perbuatan yang melanggar hukum.
Lalu apa yang terjadi di luar sana? Perbuatan yang jelas-jelas melanggar hukum dan itu bukan sifat alami ‘anak-anak’. Aku dengar berita tentang Yuyun dan aku nangis. Lalu ada lagi berita anak SMP usia 13 tahun yang dijadikan budak seks oleh teman-temannya yang berusia belasan tahun. Temanku juga bilang kalau di daerah-daerah banyak kejadian serupa yang luput dari media. Teman yang lain bilang kalau negara ini darurat perlindungan anak-anak dan perempuan. Aku setuju dengannya, tapi bagaimana melindunginya kalau mereka sendiri sebagai pelaku?
Langganan:
Postingan (Atom)

