Pages

Rabu, 08 November 2017

Ego Perempuan Diusianya

Seorang perempuan cantik, tinggi, putih, seksi, dan pandai masak. Dia menebar kasih pada siapa pun. Bermanja dengan siapa pun. Disayang oleh semua orang. Seolah dimahkotai permata.

Namun aku juga pernah diusianya, meskipun sikapku bertolak belakang dengannya. Tidak ada mahkota permata dan tidak dengan mudah bermanja pada orang lain. Ada orang yang sayang padaku itu cukup.

Ego perempuan diusianya, ingin memiliki semua orang tanpa perlu kehilangan. Aku pun pernah memiliki ego yang sama. Aku berkata dengan tegas kalau aku lebih baik punya banyak Kakak daripada punya pacar kemudian putus. Aku juga dengan percaya dirinya bilang Kakak bisa aku miliki selamanya.


Selasa, 14 Februari 2017

Sampai Ketemu Tahun Depan

Dear seluruh kru PosCinta



Pertama-tama saya turut berduka cinta dengan kepergian Bosse tercinta, Alm. Om Em. Jujur saya tidak mengenal beliau dan tak tahu harus menulis surat apa. Saya baru tahu adanya PosCinta tahun kemarin, lalu seperti nostalgia rasanya karena kembali menulis surat dan setiap harinya menanti Kring-Kring-an dari Bosse kita. Sungguh, setiap hari di bulan Februari menjadi sangat berarti dan tak terlupakan bagi saya pribadi.

Kalian, seluruh kru yang ada di depan dan belakang layar PosCinta pasti lah sangat istimewa, paling kece sesemesta, ganteng dan cantik tiada tandingan. Ada juga KangPos yang dengan sabar membaca dan mengomentari setiap surat membuat saya semakin semangat menulis. Benar. Ini seperti cara ampuh membiasakan menulis setiap hari. Ditambah lagi selama 30 hari harus ada ide-ide segar supaya komentar KangPos semakin menyenangkan. Khususnya untuk KangPos, Ka Elikah, terimakasih sudah dua tahun ini menjadi KangPos kesayangan. Terimakasih juga untuk Bosse magang dan KangPos lainnya.

Saya menulis surat ini di menit-menit terakhir! Saya jadi gugup sendiri!

Pokoknya, adanya event PosCinta setiap tahun menjadikan bulan Februari semakin penuh cinta. Satu hal lagi, karena PosCinta saya bertemu kembali dengan gebetan masa SMP loh! Sekarang kita masih kontakan di Instagram. Hahaha. Terimakasih sudah mengantar surat-surat cinta selama dua tahun ini.

Sampai ketemu tahun depan!


Salam,
Hana Wishoshinaa

Minggu, 12 Februari 2017

Bahagia Bukan Pakaian

Dear Ka Elikah Ikavuje


Setahun lalu, Ka Ika bertugas sebagai Tukang Pos dari +Pos Cinta yang selalu aku tunggu kedatangannya di rumah kecil ini. Ka Ika membaca satu persatu suratku seakan paham, bahwa aku selalu menggantungkan kebahagiaan pada seseorang. Ya, seperti pakaian yang digantungkan di tubuh seseorang. Aku bahagia karena orang lain memakai pakaianku. Aku bahagia karena bahagia orang lain. Terus seperti itu.

Bagaimana suasana hati Ka Ika saat ini? Aku sering lihat Instagram Kaka loh! Aura Ka Ika saat tertawa dan berfoto bersama teman-teman begitu terang dan menyenangkan. Aku harap Kaka selalu bahagia.

Aku sekarang sudah banyak belajar loh, Ka. Bukan belajar membaca atau berhitung apalagi menyulam. Aku belajar membahagiakan diriku sendiri. Melihat Ka Ika bisa seterang itu disetiap foto Instagram, membuatku ingin menjadi terang. Aku bukan lagi Si Kelam yang bingung menempatkan pakaian ke tubuh seseorang. Aku tidak lagi menjadikan bahagiaku seperti pakaian. Ya, bahagia bukan pakaian. Aku merubah sudut pandangku dan melihat kebahagiaan seperti udara, oksigen, angin, apa pun itu yang gratis karena siapa pun bisa menghirupnya. Siapa pun bisa merasakan kesejukan karenanya. Siapa pun bisa terang di dalamnya.

Setahun waktu yang cukup lama untuk belajar, tapi kenyataannya aku berhasil! Jadi ingin melompat seperti Dora The Explorer deh! Aku juga mengerti Ka, ketika kita dapat membahagiakan diri sendiri, orang di sekitar kita ikut bahagia. Bahagia itu menular kan, Ka?! Jadi mari kita tularkan kebahagian pada banyak orang!


Semoga Ka Ika selalu diberi kebahagian dan kesehatan yaa!

Sekian dulu suratku. Sampai ketemu di surat-surat cinta berikutnya :)



Salam,
Hana Wishoshinaa

Sabtu, 11 Februari 2017

True Love


Dear Love Seeker


Butuh berapa lama kau mencari True Love? Aku telah berusaha mencarinya dari satu kota ke kota lain, hingga ke luar pulau Jawa. Aku telah melakukan banyak cara untuk menemukannya dari mengumpulkan alumni sekolahan, ikut banyak organisasi dan komunitas, hingga melalui dunia maya. Bagaimana denganmu?


Sahabatku pernah bercerita....

Ada orang bijak yang berkata pada seorang pria, "Jalan lah kau di jalan ini. Jika kau menemukan satu bunga yang indah, petik lah bunga itu. Namun jangan sekali-kali kau berjalan mundur atau ke belakang."

Maka pria itu menuruti kata-kata orang bijak. Dia berjalan dan berkali-kali terkesan dengan bunga yang indah. Saat ingin memetiknya dia berpikir, 'Mungkin di depan sana ada bunga yang lebih indah.' 

Dia terus memikirkan hal yang sama hingga sampai lah dia di ujung jalan.

Orang bijak bertanya, "Kenapa kau tak membawa setangkai bunga?"

Pria itu menunduk penuh penyesalan. Kakinya pun tak pernah bisa berjalan mundur.

Orang bijak paham. Dia menepuk pundak pria itu, lalu menasehati, "Setiap orang selalu mengharapkan yang terbaik untuk dirinya. Ketika kau mencari yang terbaik, kau akan melewatkan banyak hal baik. Pada akhirnya kau tak akan mendapatkan apa pun, karena yang terbaik adalah yang telah kau lewatkan."


Cerita dari sahabatku membuatku mengerti. Seseorang yang terbaik adalah orang baik yang kita temukan. Darinya kita bukan menemukan cinta sejati seperti yang kita harapkan di awal perjalanan. Melainkan bersamanya kita membangun cinta sejati yang kita harapkan untuk akhir perjalanan yang bahagia.

Maka, untuk kalian para Love Seeker, jika kau sudah menemukan orang yang baik cobalah membangun cinta sejati bersama. True Love isn't Found. It's Built.



Salam penuh cinta,
Wanita biasa yang jatuh cinta

Jumat, 10 Februari 2017

Berhenti Menyimpulkan



Dear Lelaki Berkacamata,


Kau bilang aku terlalu baperan dan cepat menyimpulkan. Terkadang aku memang semenyebalkan itu, bertingkah seperti anak SMP labil yang merengek di status dan mencari perhatianmu. Berkali-kali pula aku bersikap seperti penganggu, tapi kau tetap mencariku lagi. Sungguh mengenalmu seperti sebuah keajaiban. 

Kau tahu, aku sudah berhenti menyimpulkan. Biasanya ketika aku membaca statusmu aku langsung menyimpulkan hal-hal yang kamu pikirkan dan rasakan. Aku juga sering kepo instagrammu dan melihat foto-foto siapa saja yang kau like, lalu menyimpulkan hubunganmu dengan mereka sampai aku merasa cemburu. Sejak saat itu dari pada aku menyimpulkan hal-hal yang tidak pasti, sebaiknya aku langsung bertanya.

Hingga akhirnya aku benar-benar bertanya tentang perasaanmu padaku. 

Hari itu aku sudah mulas seharian, otakku seperti penuh kabut, jantung bukan lagi berdetak tapi berdesir bolak balik dari ujung kaki sampai ujung rambut, seluruh tubuh langsung lemas membayangkan apa yang akan kau jawab nanti. Aku sudah siap dengan jawaban terburuk, jika kau menanggapku teman, maka aku tetap senang berteman denganmu. Namun jika jawaban terbaik yang aku dapat, aku akan.... entahlah.

Kenyataannya perasaanmu sama denganku. Kenyataannya kamu berniat serius denganku. Meskipun aku bilang kalau aku tak berniat pacaran, kau mengerti dan memberiku waktu untuk saling mengenal lebih dulu.

Kini aku ingin menyimpulkan. Tidak. Maksudku, aku ingin kamu tahu kalau niatmu itu lebih dari yang aku butuhkan. Aku bukan lagi di usia ABG yang butuh status lalu memamerkan kemesraan di media sosial. Aku butuh kamu yang bergerak seiring dengan niat tulusmu. Jika memang Tuhan menakdirkanmu, maka Dia akan meringankan langkah kita dan memudahkan jalan kita ke depannya. Aku percaya Tuhan Maha Berkehendak. 

Aku juga selalu percaya padamu, itu sebabnya aku mulai berhenti menyimpulkan apa pun. Ada sebuah quotes yang mengatakan, "Kau mungkin tidak akan selalu percaya pada orang yang kau cinta, tapi kau akan selalu cinta pada orang yang kau percaya." Jadi jika aku selalu percaya padamu, kesimpulannya aku akan selalu cinta padamu. Eh aku kan sudah berhenti menyimpulkan! Terkecuali untuk yang satu itu ya!

Ya! Aku akan selalu cinta kamu!



Salam,
Wanitamu

Kamis, 09 Februari 2017

Guling Kesayangannya

Dear Guling Kesayangannya,


Sudah berapa lama kamu di sana? Setiap dia merasa kesepian, kamu yang dipeluknya mesra. Jujur aku sempat iri, tapi tak apa toh kamu juga tak bisa balas memeluknya. Kamu selalu ada disisinya menjadi yang paling dibutuhkan dalam segala situasi. Bahkan beruntungnya kamu bisa berlama-lama menatap wajah polosnya saat sedang tertidur? Apa dia pernah melakukan hal aneh saat tidur? Beritahuku cepat! Apa mungkin dia mengigau, mengiler, mengorok, atau tidurnya tak bisa diam hingga sering melemparmu?

Hai Guling, hari ini dia sedang demam kan? Semua karena salahmu juga, sejak sore hingga semalem dia terus mengelonimu. Dia jadi malas gerak dan tak mau makan. Seharusnya kamu pukul saja kepalanya dan paksa dia makan. Sekali-kali berubahlah jadi guling sekeras batu agar dia tidak terlalu tergantung padamu. Setidaknya dia akan merasa tak nyaman saat menyentuhmu lalu beranjak pergi mencari makan. Yah, tapi karena dia sudah sakit seperti sekarang ini, aku minta tolong jaga dia ya. Sentuh lah keningnya lembut.

Seandainya bisa, tolong jadi obat untuknya. Dia masih tidak mau makan obat kan? Jadi tolong kompres kepalanya yang panas. Redakan panasnya. Aku harap esok hari dia sudah kembali sehat.

Sekali lagi tolong jaga dia ya...


Salam,
Perempuan cerewet
yang menyayanginya.

Rabu, 08 Februari 2017

Keberuntungan dan Kesulitan

Dear Tuhan Pemilik Semesta,


Kemarin aku mencoba mengulurkan tangan pada seorang teman, berharap dia menyambut tanganku, dan jatuh ke pelukan. Kenyataanya dia terlalu nyaman dalam kejatuhannya. Saat itu yang dia butuhkan bukan uluran tangan, petuah, atau pelukan. Dia hanya perlu berteriak dan meluapkan semua emosinya. Dia bahkan menuduhku sebagai orang yang beruntung. Aku? Beruntung?

Tuhan Engkau yang Maha Melihat, apa benar aku orang yang beruntung?

Kau jelas mengetahui kejatuhanku di waktu lalu. Bukan kah Kau mengajakku bercanda dengan sangat tidak lucunya. Menghadirkan, menghilangkan, mendekatkan, memisahkanku dengan seseorang yang paling berarti dalam hidupku. Hingga aku merasa muak karena tidak mengerti dengan skenario-Mu yang penuh plot twist.

Kau lihat sendiri kan, Tuhan? Di tahun lalu, aku sangat berputus asa hingga setiap helaan nafasku terasa sia-sia. Aku benci mendengar detakan jantungku sendiri. Aku berdoa di dalam sujudku dan bertanya dengan lantang padamu, kapan Kau menjemputku? Saat itu hanya itu lah yang terpikirkan olehku, sekalipun iblis menarikku paksa ke neraka, itu terasa lebih baik daripada hidup dalam dunia yang penuh ilusi.

Kemudian, Kau menghadirkan seseorang yang biasa saja, tapi dia menatapku dengan tatapan yang tidak biasa. Seseorang yang membuatku berhenti mencari karena aku sudah menemukan yang selama ini aku cari. Seseorang yang mendorongku mewujudkan impian bukan yang menawarkan impian kosong lalu pergi begitu saja. Dia lelaki sederhana berkacamata yang dengan tenang membawaku mengalir dalam waktu, sehingga aku menikmati hidupku dengan penuh rasa syukur. Kau seolah-olah menghadirkan matahari di balik awan pekat dan hujan. Kau melukiskan pelangi yang melengkung indah seperti senyumanku kini.

Tuhan, sesungguhnya hanya Engkau yang membuatku merasa beruntung. Lelaki berkacamata itu hanya perantara atas Kebesaran dan Kasih Sayang-Mu. Aku tak pernah tahu apa yang terjadi sedetik, sebulan, atau setahun kemudian. Aku hanya tahu dan percaya skenario dari-Mu adalah yang terbaik. Setiap keberuntungan dan kesulitan adalah yang terbaik untukku, untuk agamaku, dan hidupku di dunia-akhirat kelak. Aku tidak lagi berharap pada makhluk ciptaan-Mu, aku hanya berharap pada-Mu, Tuhan.

Jadi apa benar aku orang yang beruntung? Tidak selalu.

Setiap orang memiliki porsi keberuntungan dan kesulitan masing-masing. Aku beruntung menemukannya, tapi aku pun merasa kesulitan akan hal lain. Aku merasa belum cukup bekal untuk melangkah ke jenjang yang lebih tinggi, membuatku takut tak bisa mencapai anak tangga di atas. Aku harus berpikir keras dan bekerja keras untuk itu. Aku juga masih dihantui ketakutan masa lalu, takut kalau di depan sana ada orang lain yang menemukannya, dan lebih pantas untuknya. Aku beruntung, sekaligus kesulitan akan banyak hal.

Temanku seharusnya mengetahui itu, atau mungkin tidak sekarang. Tuhan, tolong jaga dia dan belai lembut puncak kepalanya, agar dia percaya dengan Kasih-Mu yang tak pernah putus. Ingatkan dia akan janji-Mu bahwa selalu ada kemudahan dibalik kesulitan.



Sekian surat dariku, Tuhan.


Salam,
Hambamu yang cengeng.