Seorang perempuan cantik, tinggi, putih, seksi, dan pandai masak. Dia menebar kasih pada siapa pun. Bermanja dengan siapa pun. Disayang oleh semua orang. Seolah dimahkotai permata.
Namun aku juga pernah diusianya, meskipun sikapku bertolak belakang dengannya. Tidak ada mahkota permata dan tidak dengan mudah bermanja pada orang lain. Ada orang yang sayang padaku itu cukup.
Ego perempuan diusianya, ingin memiliki semua orang tanpa perlu kehilangan. Aku pun pernah memiliki ego yang sama. Aku berkata dengan tegas kalau aku lebih baik punya banyak Kakak daripada punya pacar kemudian putus. Aku juga dengan percaya dirinya bilang Kakak bisa aku miliki selamanya.
Awalnya semua berjalan seperti yang aku inginkan. Aku punya satu Kakak. Ditambah satu Kakak. Lalu ada Kakak yang lainnya. Semua sayang padaku. Memperhatikanku. Menjagaku. Menjadi penopangku.
Akan tetapi itu tidak berlaku selamanya.
Ada saat Kakak menentukan pilihannya. Jatuh cinta pada wanita yang sebenarnya. Bukan seorang adik tanpa ikatan darah. Dia pun berjalan menjauh. Tidak ada lagi sapa atau petuah. Janji untuk datang berkunjung juga tak pernah ditepati. Aku pun sadar diri. Aku sendiri. Tidak ada lagi orang yang memanggilku Adek, Nduk, atau Dek. Aku kehilangan Kakak. Lebih tepatnya aku kehilangan orang yang tak pernah aku miliki. Aku tak pernah benar-benar memiliki Kakak. Bagaimana bisa aku berpikir memiliki Kakak selamanya? Itu hal paling konyol yang aku sadari saat ini. Sekaligus kejatuhan pertamaku.
Ya, aku jatuh bukan saat putus dari pacarku. Bukan juga saat aku tahu cinta pertamaku telah menikah. Kejatuhanku saat aku benar-benar sendiri, tanpa Kakak. Aku terus mengingat-ngingat saat Kakak meluangkan waktunya untukku. Sekarang waktunya untuk membangun keluarga kecilnya.
Aku pun mundur dan melupakan Kakak.
Itu cerita tentangku saat diusia perempuan itu. Perempuan bermahkota permata itu kelak juga akan sadar kalau dia tidak pernah memiliki laki-laki yang kini ada untukku. Laki-laki itu akan membangun keluarga kecil bersamaku. Sudah seharusnya perempuan itu mundur dan mulai melupakan laki-lakiku. Terus lah bersama waktu dan jadi perempuan dewasa. Ego hanya akan membuatmu jatuh lebih dalam.
Rabu, 08 November 2017
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar