Dear Tuhan Pemilik Semesta,
Kemarin aku mencoba mengulurkan tangan pada seorang teman, berharap dia menyambut tanganku, dan jatuh ke pelukan. Kenyataanya dia terlalu nyaman dalam kejatuhannya. Saat itu yang dia butuhkan bukan uluran tangan, petuah, atau pelukan. Dia hanya perlu berteriak dan meluapkan semua emosinya. Dia bahkan menuduhku sebagai orang yang beruntung. Aku? Beruntung?
Tuhan Engkau yang Maha Melihat, apa benar aku orang yang beruntung?
Kau jelas mengetahui kejatuhanku di waktu lalu. Bukan kah Kau mengajakku bercanda dengan sangat tidak lucunya. Menghadirkan, menghilangkan, mendekatkan, memisahkanku dengan seseorang yang paling berarti dalam hidupku. Hingga aku merasa muak karena tidak mengerti dengan skenario-Mu yang penuh plot twist.
Kau lihat sendiri kan, Tuhan? Di tahun lalu, aku sangat berputus asa hingga setiap helaan nafasku terasa sia-sia. Aku benci mendengar detakan jantungku sendiri. Aku berdoa di dalam sujudku dan bertanya dengan lantang padamu, kapan Kau menjemputku? Saat itu hanya itu lah yang terpikirkan olehku, sekalipun iblis menarikku paksa ke neraka, itu terasa lebih baik daripada hidup dalam dunia yang penuh ilusi.
Kemudian, Kau menghadirkan seseorang yang biasa saja, tapi dia menatapku dengan tatapan yang tidak biasa. Seseorang yang membuatku berhenti mencari karena aku sudah menemukan yang selama ini aku cari. Seseorang yang mendorongku mewujudkan impian bukan yang menawarkan impian kosong lalu pergi begitu saja. Dia lelaki sederhana berkacamata yang dengan tenang membawaku mengalir dalam waktu, sehingga aku menikmati hidupku dengan penuh rasa syukur. Kau seolah-olah menghadirkan matahari di balik awan pekat dan hujan. Kau melukiskan pelangi yang melengkung indah seperti senyumanku kini.
Tuhan, sesungguhnya hanya Engkau yang membuatku merasa beruntung. Lelaki berkacamata itu hanya perantara atas Kebesaran dan Kasih Sayang-Mu. Aku tak pernah tahu apa yang terjadi sedetik, sebulan, atau setahun kemudian. Aku hanya tahu dan percaya skenario dari-Mu adalah yang terbaik. Setiap keberuntungan dan kesulitan adalah yang terbaik untukku, untuk agamaku, dan hidupku di dunia-akhirat kelak. Aku tidak lagi berharap pada makhluk ciptaan-Mu, aku hanya berharap pada-Mu, Tuhan.
Jadi apa benar aku orang yang beruntung? Tidak selalu.
Setiap orang memiliki porsi keberuntungan dan kesulitan masing-masing. Aku beruntung menemukannya, tapi aku pun merasa kesulitan akan hal lain. Aku merasa belum cukup bekal untuk melangkah ke jenjang yang lebih tinggi, membuatku takut tak bisa mencapai anak tangga di atas. Aku harus berpikir keras dan bekerja keras untuk itu. Aku juga masih dihantui ketakutan masa lalu, takut kalau di depan sana ada orang lain yang menemukannya, dan lebih pantas untuknya. Aku beruntung, sekaligus kesulitan akan banyak hal.
Temanku seharusnya mengetahui itu, atau mungkin tidak sekarang. Tuhan, tolong jaga dia dan belai lembut puncak kepalanya, agar dia percaya dengan Kasih-Mu yang tak pernah putus. Ingatkan dia akan janji-Mu bahwa selalu ada kemudahan dibalik kesulitan.
Sekian surat dariku, Tuhan.
Salam,
Hambamu yang cengeng.