Pages

Minggu, 31 Januari 2016

Surat Cinta Pertamaku untuk Kamu


Ini surat cinta pertamaku, mungkin perasaanmu sedang tak menentu sama sepertiku. Hai kamu, sudah jangan cengengesan dan mesam mesem sendiri. Baca surat cinta ini dan pahami maksudku.

Kita mungkin sudah lama saling mengenal dan setidaknya kamu berusaha mengenalku. Kamu sudah mengetuk pintu rumahku dan aku dengan senang hati mengijinkanmu masuk. Kamu membaca suasana hatiku setiap saat, meski pun kamu tak menanggapinya setiap saat. Kamu tepatnya tahu kapan aku bahagia, marah, sedih, kecewa, dan kesepian karena aku selalu mencoretkannya pada dinding rumahku.

Senin, 25 Januari 2016

FANFIKSI SUPERNOVA


Hujan deras, rintiknya seperti batu es yang memukul-mukul kasar jendela kaca mobil. Petir terus menggelar di segala penjuru. Namun Elektra dengan nyaman tidur di kursi paling depan. Suara petir tak menganggunya sama sekali, bahkan baginya ini lebih lembut dari nyanyian nina bobo seorang ibu. Di kursi belakang Bong menutup kuping dan sesekali terlonjak kaget. Bodhi dengan tenang duduk dan pandangannya tak berhenti mengamati Elektra.

Jalan tol menuju Jakarta sangat rawan di saat hujan seperti ini, jarak pandangnya menipis belum lagi angin kencang yang seakan bisa mendorong mobil dalam sekali hentakan. Namun Mpret bersikeras mengantar Bong, sekaligus menjemput adik si empunya mobil Jeep putih ini di bandara, karena itu syarat yang diajukan teman Mpret jika ingin meminjam mobilnya.

Minggu, 24 Januari 2016

Pragmatis, Pragmatik.

Sebelum pulang, karena hujan besar juga aku mau nulis apa yang baru saja dibahas di grup Supernova. Tentang aku yang ‘katanya’ pragmatis, ya sebelum ini sahabatku bilang aku idealis. Aku menangkap makna Pragmatis itu sebagai kebalikannya Idealis.

“Seorang mahasiswa yang dari awal pragmatis, mentargetkan lulus kuliah cepat, dengan IPK tinggi, dan mengantongi beragam sertifikat dari berbagai organisasi, begitu lulus langsung bekerja, bila nyantol di perusahaan besar lebih baik, tapi jika tidak lompat-lompat dari satu tempat ke tempat lain tidak buruk, lalu bekerja keras mencapai level yang lebih tinggi di perusahaan, menikah, lalu punya anak dan hidup sejahtera. Itu semua adalah rencana hidupnya, tapi begitu ia merasakan bekerja di perusahaan besar, tiba-tiba ia menjadi berpikir: sebenarnya untuk apa aku hidup? Untuk apa aku bekerja? Apakah semata karena kesejahteraan? Akhirnya ia pun bisa menuju jalan yang berbalik arah, ia memilih bekerja sosial yang tidak dibayar pun tidak apa-apa. Kalau orang bilang, mahasiswa tipe ini adalah mahasiswa pragmatis yang menjadi idealis.” (Sumber: Suararaa)

Ya tepat aku merasa tergambarkan dengan contoh di atas, seorang yang pragmatis lalu menjadi idealis. Tapi ternyata bukan itu yang dimaksud, ada satu hal lagi yang tidak ada kaitannya dengan sifat melainkan dari cara penyampaian pesan.

Penjelajah

Coraline merasa dirinya seorang penjelajah, percis seperti aku kecil dulu. Menjelajahi komplek, main di selokan, manjat pohon, melihat benteng tinggi di belakang PLN dan menyebutnya benteng cina, melihat tower tinggi dan menganggapnya menara eiffel. Duniaku meski hanya seluas komplek, tapi aku merasa telah berkeliling dunia yang sesungguhnya.

Di novel Coraline ada saat dia menjelajah keluar 'flatnya yang lain' menembus pepohonan, namun setelah melewati rimbunnya pepohonan, kabut, dan pemandangan yang seperti sketsa di atas kertas putih, dia kembali melihat 'flatnya yang lain'.