Senin, 25 Januari 2016
FANFIKSI SUPERNOVA
Hujan deras, rintiknya seperti batu es yang memukul-mukul kasar jendela kaca mobil. Petir terus menggelar di segala penjuru. Namun Elektra dengan nyaman tidur di kursi paling depan. Suara petir tak menganggunya sama sekali, bahkan baginya ini lebih lembut dari nyanyian nina bobo seorang ibu. Di kursi belakang Bong menutup kuping dan sesekali terlonjak kaget. Bodhi dengan tenang duduk dan pandangannya tak berhenti mengamati Elektra.
Jalan tol menuju Jakarta sangat rawan di saat hujan seperti ini, jarak pandangnya menipis belum lagi angin kencang yang seakan bisa mendorong mobil dalam sekali hentakan. Namun Mpret bersikeras mengantar Bong, sekaligus menjemput adik si empunya mobil Jeep putih ini di bandara, karena itu syarat yang diajukan teman Mpret jika ingin meminjam mobilnya.
Mpret mengendarai mobil semakin cepat menembus hujan lalu mendadak membanting stir ke kanan karena di hadapannya sebuah truk berhenti mendadak. Bong berteriak. Etra terbangun. Bodhi menutup matanya rapat. Mobil Jeep itu berguling ke sebelah kanan dan tertubruk mobil lain dari arah berlawanan. Etra melirik ke sebelahnya terlihat Mpret tersenyum penuh luka.
Etra kembali teringat kata-kata Bong, “Lo pernah siap mati buat seseorang?”
Sampai sekarang aku belum siap mati, bahkan untuk seseorang yang menyukaiku.
Petir tiba-tiba menggelegar membelah mobil Jeep. Menyelamatkan Elektra dan Bodhi.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar