Pages

Rabu, 06 Juni 2018

Pernikahan untuk Ibadah, Ibadah dan Ibadah

Aku memutuskan menikah bukan karena 'takut tidur sendiri' seperti berita yang sempat viral. Ketika aku bertemu pria yang sesuai dengan doa-doaku, seperti pengabulan dari segala doaku, aku memilih untuk menikah dengannya. Segalanya berjalan dalam waktu singkat karena Allah memudahkan jalanku. Setelah menikah pun, aku dikaruniai seorang anak yang kini masih ada dalam kandungan. Sungguh Allah mencurahkan kasih-Nya padaku dengan sangat berlimpah.


Aku berniat untuk beribadah pada-Nya ketika aku di ijab kabul. Namun aku belum begitu paham arti 'ibadah' yang sesungguhnya. Aku pikir menjalankan peran seorang istri hanyalah sebatas rutinitas dan kewajiban. Menyiapkan makanan, pakaian dan membersihkan rumah adalah pekerjaan yang wajib untuk seorang istri. Terkadang sangat lelah, karena selain mengerjakan pekerjaan rumah, aku pun bekerja di kantor dari pagi sampai sore, ditambah lagi kondisiku yang sedang mengandung dan tensi darah yang rendah.

Sampai di titik aku benar-benar lelah... 

"Sabar itu pekerjaan ibu rumah tangga, ibadah teh," kata ibuku.

Kembali lagi ke niat awalku saat menikah, untuk beribadah pada Allah yang telah mengabulkan doa-doaku dan  mencurahkan kasih-Nya. Jadi apa yang aku kerjakan, rutinitas yang aku jalani, ini buka peran seorang istri, tapi ini ibadahku sebagai istri, bentuk rasa syukurku karena memiliki suami dan anak dalam kandunganku. Tak seharusnya aku mengeluh. Ya... aku harus sabar dan terus beribadah sebagai seorang istri, karena sebentar lagi jika Allah berkehendak levelku akan naik menjadi seorang ibu. Selelah apa pun, ingat lagi kalau yang aku kerjakan adalah ibadah :) 



Semangat juga untuk emak-emak di luar sana! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar