Pages

Jumat, 13 Mei 2016

Miris dengan Pemberitaan tentang Anak

“Negara ini benar-benar darurat perlindungan anak dan perempuan."- Bang Anda

Satu kata untuk kejadian yang menimpa anak-anak saat ini yaitu “MIRIS”. Aku nggak bisa bayangin kalau itu menimpa anak-anak yang aku temuin di sini. Anak-anak yang polos dan lugu. Nakal mereka pun sewajarnya. Memang ada yang berniat mengambil pensil atau meminjam uang dan tidak dikembalikan. Tapi itu masih bisa diarahkan, agar tidak berlanjut dan menjadi perbuatan yang melanggar hukum.

Lalu apa yang terjadi di luar sana? Perbuatan yang jelas-jelas melanggar hukum dan itu bukan sifat alami ‘anak-anak’. Aku dengar berita tentang Yuyun dan aku nangis. Lalu ada lagi berita anak SMP usia 13 tahun yang dijadikan budak seks oleh teman-temannya yang berusia belasan tahun. Temanku juga bilang kalau di daerah-daerah banyak kejadian serupa yang luput dari media. Teman yang lain bilang kalau negara ini darurat perlindungan anak-anak dan perempuan. Aku setuju dengannya, tapi bagaimana melindunginya kalau mereka sendiri sebagai pelaku?

Aku sebenarnya tidak bisa berkomentar apa-apa. Aku hanya ingin bilang, anak-anak butuh perhatian kita. Selama ini kita menganggap masalah ekonomi adalah masalah yang urgent. Asalkan ada uang kita bisa hidup dan menghidupi anak-anak. Lalu orang tua bekerja dari pagi sampai sore dan lupa pada anak-anak yang butuh perhatian. Meskipun mereka melakukan kenakalan, pada dasarnya mereka melakukan itu untuk mendapat perhatian kita. Jika sampai mereka melakukan hal-hal di luar nalar berarti mereka berpikir kita tidak tahu apa yang mereka lakukan, mereka mengira kita tak memperhatikan mereka, mereka lalu merasa tidak masalah melakukannya karena kita tak peduli.

Tolong... perhatikan anak-anak. Siapa pun kalian, orang tua, tetangga, saudara, guru, atau orang yang bekerja di media. Tidak sadar kah kalian kalau anak-anak kurang perhatian kalian? Aku lahir di tahun 1990. Aku beruntung. Aku mendapat perhatian dari orang sekitar. Itu sebabnya aku bisa menjaga diri dan tak menyangka jika di tahun ini anak-anak tidak lagi sepertiku.

Dulu aku bebas bermain dengan teman-teman, orang tuaku memperhatikanku dan bertanya kemana aku main, dengan siapa aku main, juga mengingatkan untuk pulang sebelum magrib. Orang tuaku juga tidak perlu cemas karena tetangga memperhatikanku, mereka melihat aku bermain, kadang berkeliling komplek naik sepedah, lalu main di taman, dan manjat pohon kersen. Aku tak luput dari perhatian mereka. Di sekolah pun, guru memastikan aku pulang ke rumah, teman yang searah rumahnya denganku menemaniku pulang. Aku dan saudaraku pun saling menjaga, teman-temanku juga masih memperhatikan kabar adik-adikku sampai sekarang, sebaliknya aku pun sering bertanya kabar teman-teman adikku. Kami semua saling memperhatikan dan saling menjaga. Sehingga kalau aku terlambat pulang atau berlaku aneh di rumah, mereka pasti langsung mencari tahu apa masalahku.

Dan yang paling membuatku bahagia adalah MEDIA. Jadi anak 90-an memang paling menyenangkan dan kita dimanja media. Aku punya radio yang selalu memutar lagu anak-anak, jadi saat tidak bermain di luar aku kan mendengarkan radio sambil menulis liriknya. Di televisi pun banyak tayangan dan film kartun anak-anak, tak perlu konten yang mendidik karena kadang kita lelah setelah sekolah dan ingin menonton kartun yang lucu. Ingat Bugs Bunny dan kawan-kawannya di kartun Looney Tunes? Aku selalu menyediakan buku catatan saat menonton untuk mencatat nama-nama tokohnya. Belum lagi Azuki Bunny dan Chibi Maruko Chan dengan kisahnya di sekolah bersama teman-temannya yang unik. Lalu di majalah Bobo, aku suka membaca cerita Bona si gajah pink, Paman Gober, dan Nirmala. Dulu media benar-benar memanjakan anak-anak. Lalu apa kabar media sekarang?

Aku tak mau berkomentar banyak tentang konten media saat ini, tanpa aku berkomentar pun kalian sudah tahu jawabannya. Miris kan, konten untuk anak-anak bisa dihitung jari. Ada televisi yang konsisten memberikan konten anak-anak seperti Trans 7 tapi itu tak cukup. Butuh peran banyak media untuk memperhatikan anak-anak agar mereka mau duduk diam di rumah dan merasa terhibur dengan tayangan yang ada. Sekarang sebagian anak diberikan gadget, dimana mereka bisa mengakses dengan bebas, lalu apa orang tua atau kakak mereka memperhatikan dan memantau apa yang mereka akses? atau apa yang mereka obrolkan dengan teman-temannya? Internet itu bisa sangat jahat loh, banyak sekali konten pornografi dari mulai games, picture, dan video. Kalau anak sudah terbiasa melihat yang seperti itu, mereka akan kehilangan masa kanak-kanaknya.

Jadi bagaimana kita melindungi anak-anak dan perempuan? Serahkan urusan pada Negara agar Menteri pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak kelabakan dengan banyaknya kasus yang ada? Tidak. Ini bukan tugas negara, tapi tugas kita sebagai manusia, sebagai orang dewasa yang pernah mengalami masa kanak-kanak. Mulai dari hal kecil dan tidak sulit, BERIKAN PERHATIAN pada anak-anak, siapa pun mereka, saudara atau pun tetangga. Dengan begitu kita melindungi mereka, melindungi perasaan mereka dari rasa diabaikan dan kesepian. Karena pada dasarnya semua anak-anak baik dan lugu, mereka hanya membutuhkan perhatian dari kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar