Langit kala itu biru terbentang tak berujung tanpa sebutir pun awan, angin berbisik padaku dan berkata, “Langit sedang sibuk mengumpulkan uap air, tak lama lagi akan terbentuk gumpalan awan yang tebal.”
Aku mengangguk paham. Aku berterimakasih pada langit karena melakukan proses evaporasi, kondensasi, hingga koalensi dengan begitu cermat. Itu bukanlah pekerjaan mudah.
Aku sudah bisa merasakan perubahan suhu akibat kondensasi. Sudut mulutku terangkat ketika mengamati awan yang bergejolak dipadati butiran air hingga beberapa bagiannya menghitam, kemudian melebar, dan semakin membesar saat terjadi turbulensi udara.
Tak lama lagi butir-butir air akan tertarik oleh gaya gravitasi bumi.
“Tunggu dulu!” kataku. Langit hampir saja menjatuhkan butiran air ke permukaan bumi.
Petir menghentakku, “Apa yang kau lakukan! Beraninya kau menghentikan hujan!”
“Hanya saja, apa kau tahu resikonya jika hujan turun?”
“Aku sudah memperhitungkan segalanya,” jawab langit ramah.
“Jika tak ada lagi butiran air yang menguap ke langit?”
“Pasti ada dalam jumlah kecil atau pun besar. Kau tak perlu khawatir.”
“Apa untungnya kau berikan hujan pada manusia?”
“Melihatmu hidup, itulah keuntungannya.”
Aku tertegun cukup lama. Angin menghampiriku lalu membelai kepalaku lembut di bawah butiran air hujan yang turun perlahan. Angin pun memelukku erat. “Kau lihatlah bagaimana pohon itu tumbuh tinggi dan besar hingga dapat memayungi kalian. Lihat burung-burung yang bernari di bawah hujan lalu kicauannya membangkitkan semangat di pagi hari. Lalu anak-anak manusia itu, apa kau lihat bagaimana mereka tertawa bahagia di bawah hujan? Itu lah keuntungan yang tak ternilai harganya.”
Petir ikut bersuara dengan gelegar yang dahsyat. “Kami berbeda dengan kalian yang berbisnis hanya memperhitungkan keuntungan untuk diri kalian sendiri! Ketika kalian merugi, kalian akan memaki, marah tak terkendali. Kalian merintih hingga risih dengan keberadaan manusia lain yang menjegal kesuksesan kalian! Apa begitu cara kalian berbisnis! Kalian tidak melihat dengan sudut pandang langit!”
“Petir benar kalian harus melihat dari sudut pandang langit. Jika kalian membuat makanan maka keuntungan yang kalian dapatkan bukan seberapa banyak uang yang kembali, tapi seberapa banyak perut yang kenyang dan raut bahagia yang muncul ketika makanan itu tersaji. Jika kau membuat pakaian, keuntungan kalian adalah berapa tubuh yang dihangatkan dan terlindungi. Jika kau meminjamkan uang, keuntungan kalian ada pada seberapa manfaat uang itu. Mungkin uang itu telah dibelikan ikan segar untuk dijual di pasar yang mana ikannya kau santap dengan suka cita. Mungkin uang itu digunakan berobat, maka berbahagialah karena bisnismu menyambung nyawa seseorang.”
Aku mengangguk paham mendengar penjelasan angin. Jika langit berpikir seperti manusia, maka berapa banyak hutang kita padanya. Coba kau kalkulasikan hujan untuk mengganti semua kerugian langit dan bayar dengan butiran air sebanyak butiran air yang jatuh. Apa kau bisa? Tidak kan?
Sekian.
Rabu, 25 Mei 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar