“Hahahaha ngaret lagi!” ledek Refan yang ikut
berlari di belakangku.
“Lo
sendiri?!” balasku kesal. Ini bukan kali pertamanya kita terlambat bareng.
Setelah ini, kita pasti diledekin dan dengan gampangnya dia bilang kalau dia
telat gara-gara ngejemput aku. PADAHAL aku telat karena naik angkot yang jalannya
kayak siput!
“Ran,
bentar deh…” katanya yang tiba-tiba berhenti berlari.
“Hah?”
Aku berbalik dan melihat Refan lagi berdiri di depan seorang nenek lampir
dengan kening berkerut dan membawa gunting di tangan kirinya! Aku menelan ludah
yang rasanya menggumpal sebesar kelereng. Sekali lihat matanya, kamu bisa
mendadak beku, bisu, bahkan bisul!
“Rania!!
Sini kamu!” teriaknya dengan suara nyaring. Namanya Bu Nuri, guru yang terkenal
paling horror di sekolahku.
“Hahaha
mampus lo! Gua duluan yaa…” tawa Refan sambil berlalu meninggalkanku.
Dengan
pasrah aku mendekati Bu Nuri dan lebih pasrah lagi ketika gunting itu mengarah
padaku, tepatnya mengarah rok abu-abuku! Lipatan rokku diguntingnya sampai jadi
sepanjang lutut. Bukan itu saja, tali sepatuku yang berwarna pink diguntingnya
dan dicabut dari sepatuku! Di dalam hati aku mengutuki Refan, kalau saja tadi
aku terus lari dan ga denger omongannya, aku pasti selamat dunia akhirat!
***
Bruuuk “Ngelamun ya lo?”
seseorang menggebrak meja di depanku, pelan tapi berhasil membawaku kembali
sadar kalau aku sedang bersama orang yang menggunakan kaos hitam, sehitam
rambutnya yang berponi kayak kuda, dan wajahnya yang selalu menyebalkan dihiasi
satu lesung pipi di pipi kanannya. Refan.
“Yaa…. Gua lagi
ngelamunin lo! Inget ga sih waktu SMA, lo sering bikin gua sial!”
“Aduh sorry ya… gua skip tuh.” katanya enteng sambil mengaduk-aduk es jeruknya pakai
sedotan. Ekspresinya bener-bener datar, seakan kata ‘sorry’ yg baru keluar dari mulutnya ga sama lagi artinya dengan
kata ‘sorry’ di kamus Bahasa Inggris.
“Sialan lo! Seharusnya
gua skip juga pertemuan ini. Ga
penting juga yaa…. setelah bertahun-tahun gua ngerasa damai karena ga ketemu lo,
sekarang lo muncul lagi di depan gua!” kataku kesal.
“Tiga tahun kan,”
katanya dan mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
Sudah hampir sejam kami
berada di kafe pinggiran kota Bandung. Sejak tadi kami hanya memesan dua gelas
jus jeruk, dia juga nggak banyak ngomong dan seakan berada di dunia lain.
Sekali-kali dia asik dengan smartphone-nya,
sekali kemudian asik mengaduk jus jeruknya, dan sekarang dia asik memperhatikan
kendaraan yang hilir mudik di jalanan, mungkin menurutnya menarik karena seperti
kawanan kunang-kunang yang belajar baris-berbaris. Aku benar-benar kesal
melihatnya yang seperti itu.
“Lo inget Arsa?”
tanyanya dan tiba-tiba saja tenggorokanku tercekik.
“Dia udah nikah dan anaknya
umur setahun,” jelasnya.
Matanya beralih menatapku dalam seperti hendak membaca perasaanku.
Matanya beralih menatapku dalam seperti hendak membaca perasaanku.
Aku melihat jam tangan
merah marun yang melingkar di tanganku sejak aku lulus SMA. Sejak saat itu aku belajar
banyak tentang waktu, misalnya saja untuk tepat waktu dan nggak memanjakan diri
melihat masa lalu, “Kosan gua bakal dikunci jam sepuluh tepat, gua harus balik
sekarang.”
***
“Ka
Arsa!” teriakku ketika dia melintas di depan kelasku.
“Eh..
Rania, kenapa?” tanyanya dengan senyum ramah yang membuat siapa pun yang
melihatnya meleleh dengan bunga-bunga pink yang bertebaran. Sedikit berlebihan,
tapi bagi siapa pun yang jatuh cinta, berlebihan adalah kewajaran kedua setelah
‘menggila’.
“Umm…
gini ka.. Ka Arsa kan jual jaket, bisa ga buatin jaket buat kelas Rania!”
kataku ragu, tapi kemudian semangat karena mendapat alasan yang tepat untuk
bicara dengannya.
“Ohh…
yaa nanti saya coba buat desainnya dulu ya, kalau sudah jadi coba dishare ke
temen-temen dan kalau cocok baru saya buatin,” terangnya. Aku mengangguk-angguk
tanpa benar-benar menyimak penjelasannya. Aku terpesona dengan detail
keindahannya, kulitnya yang putih bersih dan model rambut poni lemparnnya yang begitu
sempurna di wajah orientalnya. Seumur hidup aku juga baru bertemu dengan orang
seperti Arsa yang berbica sopan dan lemah lembut, dengan penggunaan kata
‘saya’, plus cara berpakaiannya rapih. Sempurna!
“Gimana?”
tanyannya.
“Ohh
iya.. nanti Rania buat desainnya…. Hehehee."
“Biar
saya yang buat desain… entar kamu sama temen-temen yang pilih."
“Ah
iia! Berarti nanti kita ketemu lagi kan!" kataku semangat sampai lupa dengan misi sebenarnya. "Um.. maksudnya buat bawa desain dari
Ka Arsa…. Hehehee..”
“Iya.
Besok lusa ya…” katanya memasang senyum manis.
***
Tokk tookk tookkkk
duuugg duuuggg “WOOOII BANGUN RANIAAAAA!! KULIAH GA LO?!” seruan Mpok Cicik,
pemilik kosanku, dia lebih ganas dari pagi pagi sebelumnya.
“Ga mpok…..” jawabku
malas.
Bantalku lembab,
semaleman aku ga bisa tidur dan nyaris percaya kalau aku liat malaikat maut.
Mataku membengkak kayak dikencingin kecoa. Buat buka mata saja rasanya perlu tenaga
dalam. Ga sanggup lagi deh bangun buat ke kamar mandi atau makan.
“RAANIIAAAA!!! Ada
tamu!! Cepet keluar!!” teriak Mpok Cicik lagi.
“Ga bisa mpok….”
Duuuugggg ddduuuggg “RANIAAAA
TAMUNYAAA UDAH DI DEPAAANN PINTUUU LOO!!” teriak Mpok Cicik yang kali ini
membuatku kesal, aku yakin Mpok Cicik dikeluarin dari perut ibunya pakai palu.
Dia hobi banget ngegedor-gedor pintu!
Gimana aku bisa ketemu
orang dalam keadaan terkacau seperti ini! Tapi daripada pintu kamarku lama
kelamaan bolong karena gedoran si Mpok Cicik, aku terpaksa menggelinding…
ngesot.. ngeraih gagang pintu dan dengan susah payah mutar kunci kamarku. Aku
bakal pura-pura sakit saja. Aku menggelinding kembali ke kasur dan nutupin
badan pakai selimut sampai kepala. “Masuk…”
“Rania…”
Aku mendengar suara
laki-laki. “Siapa ya?” tanyaku dari dalam selimut.
“Refan. Gua boleh masuk?”
tanyannya.
“Mau apa lo kesini!!
Gua lagi ga enak badan, jadi mendingan lo pergi!”
“Gara-gara Arsa kan?" Mendengar namanya lagi,
sekujur tubuhku langsung bergetar, sesak, dan lagi aku terisak. Aku mengigit
selimutku agar tak menimbulkan suara, tapi aku yakin dari luar sana Refan masih
bisa melihat gerakan tubuhku yang aneh.
“Bertahun-tahun kenapa
selalu Arsa sih?! Gua tahu lo suka banget sama dia! Sampe satu sekolah juga
tahu itu! Lo bela-belain beli jaket kelas dari dia, padahal temen-temen
udah sepakat buat bikin kaos. Lo juga buta waktu dia jalan sama cewek lain dan
lo selalu bilang selama dia belum nikah, dia bisa jadi milik lo! Setiap detik
yang lo omongin di depan gua selalu dia! Selalu ajah Arsa….” nada suara Refan
berubah. “Lo ga pernah mau tahu kalau Arsa ga suka lo. Lo terlalu percaya diri…
Lo terlalu berharap kalau suatu saat dia juga bakal bertekuk lutut di hadapan
lo.”
“CUKUUUUPPP!! APA
MAKSUD LO BILANG SEMUA ITU!!” teriakku, karena kesal aku melemparkan selimut
yang menutupi tubuhku ke arah Refan.
Refan lama menatapku. “Mata
lo?! Hahahahaa abis dikencingin kecoa yaaa!! Hahahaa jelek banget lo!
Hahhahaaha” tawanya meledak berlawanan dengan tangisanku yang semakin keras.
“REEFAAAAAANN!!!!”
teriakku disela-sela tangisanku yang bodoh. Dia pun menutup mulutnya, menahan
tawa, dan mengalihkan pandangannya dari mataku yang menurutnya sangat
menggelikan.
“Sejak lo kenal Arsa…. berapa
kali lo nangis? Waktu lo liat dia jalan sama cewek lain? Waktu lo ngerasa cape
dan ingin nyerah? Waktu lo nyoba ga ngeharepin dia lagi? Atau waktu lo tahu dia
nikah? Berapa kali lo nangis??” tanyannya dan aku hanya menggeleng, karena
rasanya sudah tak terhitung lagi, terlalu sering aku menangisinya. “Apa pernah gua buat lo
nangis?” tanyannya lagi.
***
Aku
ingat, setelah lulus dari SMA, aku sering menceritakan soal kenakalanku pada
teman-teman, termasuk saat Refan selalu mengerjaiku dan membuatku sial
jungkir balik.
“Waktu
itu bola basket yang gua pakai jatuh ke sungai dan gua ngamuk-ngamuk nyalahin Refan
yang buat bola itu jatuh! Hahahhaaa…. pokonya gua puas banget waktu nyuruh Refan
nyebrangin sungai yang ada bebeknya! Ternyata dia takut sama bebek! Hahahahaa
dia dikejar-kejar bebek sampai jatuh ke lumpur dan dia mukulin bebek-bebeknya
pakai bola dan lo tau dong… bebek-bebek itu malah semakin ngamuk dan bukan cuma
Refan yang habis dipatok bebek, tapi bola basketnya juga kempes. Hahaha dia
harus gantiin bola basketnya pakai uang tabungannya,” tawaku puas saat
menceritakannya pada temanku.
“Dasar
ya… temen kena sial lo malah ketawa puas gitu.”
“Dia
lebih sering buat gua sial tau! Tapi asik banget lah tiap berantem ama dia…
haahh…. Kalau inget masa SMA gua jadi kangen sama makhluk satu itu!”
***
“Rania… apa gua pernah
buat lo nangis? Sekalipun lo gua kerjain, lo ga pernah kan sampe nangis?”
tanyanya lagi dan telah selangkah maju mendekatiku.
Aku mulai bisa mengatur
nafasku dengan normal, aku menatap Refan dengan mata yang tidak bisa sepenuhnya
terbuka, agak buram tapi aku masih bisa lihat keberadaan Refan. Dia terlihat
serius dan aku merasa ada yang aneh dari caranya melihatku.
“Sekali lagi gua tanya…
apa pernah gua buat lo nangis?”
“Bego lo!! Ngapain juga
gua nangis gara-gara lo! Lo tuh makhluk paling nyebelin yang ga gua harapin ada
di dunia ini!”
“Oke seenggaknya gua
bukan yang bikin mata lo bengkak kayak gitu. Gua rasa lo emang lebih cocok
dengan wajah jelek kayak gitu, gua jamin bertahun-tahun wajah lo bakal kayak
gitu! Gua balik…” serunya. Dia kembali menjadi Refan yang aku kenal, berteriak
seperti itu dan mengataiku seenaknya. Aku tersenyum geli, rasanya ingin
mengambil cermin dan mentertawai wajahku sendiri, mungkin benar-benar jelek
seperti yang Refan bilang tadi.
***
Aku menatap jam tangan
merah marun di pergelangan tanganku, seharusnya hal bodoh waktu itu ga terjadi
lagi karena aku sudah berjanji nggak akan memanjakan diri melihat masa lalu. Jam
tangan merah marun ini kado kelulusan dari seseorang yang ngakunya ‘secret admirer’. Kado yang disimpan di
kursi kantin itu jelas-jelas bertuliskan untuk Rania si tali sepatu pink,
satu-satunya orang yang nekad dan ngebandel pakai tali sepatu warna pink di
sekolah ini ya cuma aku, jadi ga mungkin kado itu salah alamat. Saat itu aku berpikir
kalau si ‘secret admirer’ itu Arsa, jadi
aku langsung memamerkannya ke teman-temannku dan berjanji kalau aku pakai jam
tangan itu aku bakal berubah! Tapi rasanya bukan Arsa yang ngasih jam ini,
benar kata Refan, saat itu aku buta dan ga peduli sama cewek-cewek di dekat Arsa
yang ternyata salah satunya jadi istri Arsa, itu artinya aku juga buta dan ga
lihat kalau ada cowok yang mencoba mendekatiku. Siapa pun ‘secret admirer’ itu, rasanya sekarang ga penting lagi, yang
penting aku sudah belajar banyak dari jam tangan ini.
Aku tersenyum sendiri
melihat tangan kananku telah menemukan sesuatu
yang penting. Tanganku menemukan tangan Refan yang membuatnya lebih kuat dan
bahagia. Seminggu berlalu sejak kejadian mata bengkak itu, aku memutuskan
memulai hubungan lebih aneh dengan Refan.
“Lo masa ga tahu kalau gua
suka sama lo dari awal masuk SMA! Tuh jam tangan yang lo pake juga dari gua!”
teriaknya saat kami sedang dinner di
kafe pinggiran kota Bandung.
“Hahh?! Jadi si‘secret admirer’ itu bukan Arsa?! Kenapa
lo ga ngomong dari dulu!”
“Ya bukan lah… dia ngelihat lo ajah enggak
kali! Dia tuh deket ama lo cuma sebatas bisnis jaket murahan itu, GA LEBIH! Dan
jangan salahin gua kalau gua telat ngomong, toh baru sekarang lo bener-bener move on dari Arsa!”
“Hahaha iya deh…
mending ga usah bahas Arsa lagi! Gua masih enek kalau inget dia!”
“Tapi bukan berarti lo masih
suka ama dia kan?!”
“Hehh yaa gak lah….
Sekarang kan gua sukanya sama lo! Puas lo!”
Refan tertawa sambil mengacak-acak
rambutku dan kami melanjutkan dialog panjang lebar yang di tiap akhir
kalimatnya selalu pakai tanda seru.
“Pulang sekarang yuk!”
ajaknya dan pergi begitu saja, dia tak menggeserkan kursiku atau menggandengku
seperti sikap cowok kebanyakan. Memang menyebalkan, tapi untuk kali ini aku
masih bisa memaafkannya.
Saat aku berdiri dan
hendak mengejarnya, tiba-tiba ‘BRUUUKK!!’ aku jatuh di depan banyak orang
karena tali sepatu pink-ku terikat jadi satu! Sialan! Ini pasti
kerjaan Refan waktu sedotannya jatuh ke kolong meja! “REEFFAAAAAAN!!!! Gua ga
bakal maafin lo! Tunggu pembalasan gua!!”
****
*Cerpen ini nemu dari folder lama sekitar tahun 2010
Asalnya namanya bukan tokoh di Ranking 44 tapi alurnya sama sih
jadi dibuat sama ajh nama tokohnya dan entah aku lebih suka Refan yang ini!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar