Pages

Selasa, 28 Juni 2016

Satu Sepatu Kaca


            Aku kembali ke tempat itu, menemukan sepasang pinus. Di sela-selanya muncul seulas senyum yang menarikku masuk. Ranting-ranting pinus tiba-tiba bergerak membuka jalan, seperti tangan yang menyambutku. Perlahan aku melangkah menembus kegelapan, aku tak dapat melihat dengan jelas tapi aku merasa si pemilik senyum itu semakin dekat denganku. Si pemilik senyum itu... aku yakin dia Ari! Sepertinya dia masih melangkah. Aku dapat melihat bayangannya, tapi dia melangkah mundur! Jangan! Jangan pergi lagi! Aku mohon kembalilah, Ri... Aku hendak mengejarnya, tapi ranting-ranting pinus yang kasar mencengkramku. Dan sayup-sayup aku mendengarnya berkata, “cintailah apa yang ada di hadapanmu, bukan di belakangmu.”
            Aku terbangun dan menyadari semua itu hanya mimpi. Ini bukan pertama kalinya aku memimpikan Ari. Dan bukan pertama kalinya aku tidak dapat melihatnya dengan jelas. Selama sembilan tahun aku kehilangannya, aku selalu kesulitan mengingat wajahnya. Tapi aku juga selalu kesulitan menyingkirkannya dari hatiku. Semua tentangnya tak pernah aku mengerti. Aku hanya merasa bahwa dia satu-satunya orang yang aku cintai.
·                      
            "Meina.. Lia udah datang nii!!!" seru Mamah dari luar kamar.
Aku segera menemui Lia. Dia terlihat sangat bersemangat di hari dinner pertamaku dengan Arian. “Rinald sama Fajri nggak ikut?” tanyaku.
“Mereka lagi ngedekorasi kafe,” jawabnya sambil mempersiapkan kosmetik yang akan merubah total penampilanku.
            Setelah berjam-jam Lia mengotak-atik wajahku, dia memintaku menggenakan gaun-gaun yang dia bawa. Aku menuruti semua kata-katanya hingga acara make-over selesai. Saat Lia menyuruhku bercermin aku tak menemukan bayanganku. Di hadapanku sedang berdiri seorang Cinderella yang kehilangan sepatu kacanya sebelum berdansa dengan Pangeran, seperti aku yang kehilangan cinta saat aku belum merasakan indahnya saling mencintai. Mengingat cinta yang datang di masa kecilku membuat air mata tiba-tiba menetes.
            “Kenapa, Na?” tanya Lia heran melihat air mataku.
            Aku menggelengkan kepala, tidak ingin membahas apa pun tentang Ari.
·                      
            Lia mengantarku ke kafe tempat Arian menungguku. Sepanjang jalan aku tak banyak bicara karena aku masih bingung dengan semua ini dan tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku masih terbayang sosok yang tadi di hadapanku. Cinderella dengan satu sepatu kacanya.
            "Meina, kamu jadi aneh deh. Kenapa diem terus?" tanya Lia.
            "Nggak apa-apa, aku cuma ngebayangin jadi Cinderella..” sebelum aku melanjutkan kata-kataku, aku melihat Lia mengembangkan senyumnya. “Cinderella itu kehilangan sepatu kacanya sebelum menemui pangeran impiannya. Tapi Ibu Peri yang baik tetap mengajaknya menemui Pangeran. Pangeran lain yang menerima Cinderella meski menggenakan satu sepatu kaca.”
            "Haahaha maksud kamu, aku jadi si Ibu Peri ya? Dan pangeran itu_"
            Aku memotong ucapan Lia dengan lanjutan ceritaku, "Cinderella merasakan sakit yang sangat dalam saat kehilangan satu sepatu kacanya. Dan kini rasa sakit itu berlipat ganda, karena dia terpaksa menggenakan satu sepatu kaca dan berdansa dengan pangeran yang bukan impiannya."
Dahi Lia berkerut. "Ari.." ucapnya berbisik seperti berkata pada diri sendiri.
            "Pangeran impianmu Ari kan?!” tanyanya dengan volume suara yang meninggi dan aku hanya menjawab dengan anggukan kepala.
“Kenapa selalu Ari? Apa di hidup kamu yang terpenting cuma Ari? Tolong lihat sekeliling kamu, Na. Banyak banget orang yang sayang sama kamu, apa menurutmu itu nggak penting?"
             Suasana kembali sunyi karena aku tak bisa menjawab pertanyaannya. Kami benar-benar tidak berbicara lagi sampai tiba di kafe. Sebelum aku keluar dari mobil, Lia menarik tanganku dan berkata, "Meina maaf, aku cuma ingin yang terbaik buat kamu."
            "Iya aku ngerti. Aku juga minta maaf.. tadi itu_”
“Udah laa.. aku akan lupakan cerita bodohmu. Sekarang kamu keluar dan berjanji tidak akan mengecewakanku,” ucapnya dengan hangat sebelum memelukku erat.
            Saat aku keluar dari mobil, Rinald dan Fajri melihatku dari ujung kaki sampai kepala berulang-ulang. Fajri terus membenarkan letak kacamatanya dan Rinald tertawa keras.
            "Lia, jadi ini hasil karya kamu?" ucap Rinald disela-sela tawanya.
            "Iya, gimana? Meina cantik kan?" tanya Lia dengan bangga.
            "Cantik bangeeeet! Waahhhh... kayak bukan Meina!" ucap Fajri terkagum-kagum.
            " Aneh tahu! Masa si Meina jadi cewek!" seru Rinald.
            "Sialan! Emangnya selama ini aku apa?! Bukan cewek?!" seruku kesal.
            "Udah ah... jangan berantem dulu. Kasihan, Arian udah nungguin Meina," ucap Lia sambil melerai aku dan Rinald.
            "Oh iya... Na kamu ikutin jalan setapak itu ya,” tunjuk Fajri pada jalan yang diterangi lilin-lilin di sampingnya. “Nanti di ujung jalan yang nggak ada lilin, Adrian akan ngirim sms ke kamu," jelas Fajri.
            Aku menuruti kata-kata Fajri. Namun saat berjalan di jalan setapak tiba-tiba hinggap perasaan yang aneh, mataku tiba-tiba pedih dan aku ingin menangis. Aku menghentikan langkahku dan menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan berharap perasaan aneh itu terbawa oleh nafas yang tadi aku hembuskan. Dongeng Cinderella itu membayangiku lagi. Cinderella harus melangkah menemui Pangeran lain dan melepas sepatu kacanya sekarang juga. Dia yakin Pangeran itu akan memberinya sepatu baru, seperti sepatu berlian atau sepatu emas, yang penting sepatu itu akan membuatnya menikmati saat-saat berdansa dengan Pangeran. 
            Aku sudah berjalan menelusuri jalan setapak dan sampai di tepi kolam berhias lilin berbentuk hati, Arian yang berlagak seperti Pangeran menuntunku menaiki tangga, yang dibanjiri kelopak bunga mawar merah. Tempat kami berada di tengah taman yang diterangi lilin-lilin cantik, bintang-bintang, dan bulan. Musik romantis terdengar sempurna di malam yang indah ini. Aku melihat kesekeliling dan melihat pohon pinus di belakang Arian.
            Aku merasa terganggu melihat pohon pinus itu. Bayangan Ari terus menampakan diri dan mengacaukan keyakinan yang baru aku bangun.
            "Tahu nggak Na, aku seneng banget lihat kamu hari ini_"
            Hanya kata-kata itu yang mampu kudengar dari Arian, karena aku tenggelam ke dalam lorong waktu yang membawaku ke sembilan tahun silam.
            Di rumahku yang dulu, aku memiliki pohon pinus yang berdampingan dengan pohon pinus Ari. Setiap sore aku selalu bermain dengan kelinci di taman dan saat itu Ari selalu diam disamping pohon pinusnya. Aku tidak pernah tahu apa yang dia lakukan disana. Aku terlalu takut menyapanya, bahkan saat melihatnya langsung aku merasa jantungku berdetak tak terkendali. Aku selalu pura-pura tak melihatnya, hingga terakhir kali dia diam di samping pohon pinusnya saat malam sebelum tahun baru, dia dan adiknya menyalakan kembang api.
            "Na! Na, kamu dengerin aku ngomong nggak sih?!" seru Arian mengagetkanku.
            "Apa? Oh iya, aku denger kok!" ucapku, berbohong.
            “Sebenernya apa yang kamu pikirin dari tadi? Apa kamu mikirin cowok lain?"
            "Haaahh? Maksudmu apa?"
            "Aku nggak suka kamu mikirin cowo lain! Kamu kan milik aku sekarang, jadi kamu cuma boleh mikirin aku!"
            "Aku milik kamu?! Maaf.. kamu salah paham. Selama ini aku hanya menganggapmu kakak," ucapku spontan.
            "Oh.. Jadi?! Aku cuma kakak?”
Maaf aku tidak bisa membohongi hatiku, aku hanya ingin satu sepatu kacaku kembali. rintihku dalam hati. Aku diam, membiarkan Arian memandangku dengan harapan aku akan berubah pikiran, tapi aku tetap diam hingga dia menyerah dan pergi meninggalkanku.
            Aku melemah di kursiku dan rasanya tulang-tulangku melunak hingga tak mampu menopang tubuhku lagi. Aku berusaha keras menahan sakit di dada dan sesak yang melilit tenggorokanku, tapi rasa itu tak sanggup aku kendalikan dan akhirnya aku luapkan dengan tangisan. Aku takut mengecewakan sahabatku.
            Kemudian Lia, Rinald, dan Fajri menghampiriku.
            "Kamu tahu?! Si Arian mau dicomblangin karena dia lagi nyari pacar, bukan adek!" bentak Rinald.
            "Meina, kamu kan udah janji?” tanya Lia.
            Aku tak bisa menjawab. Fajri yang tenang mengelus rambutku perlahan. “Kata Lia di jalan kamu mikirin Ari. Apa itu alasan kamu nolak Arian?” katanya lembut.
“Sampai kapan sih kamu mau mikirin Ari yang nggak jelas keberadaannya? Cerita Cinderella itu fiksi Na! Kamu harus bangun dan hadapi kenyataan! Jangan kayak gini terus!”
            "Lama-lama aku juga capek nyomblangin kamu terus!”
“Setiap orang menemukan cintanya dengan cara yang unik, jadi Meina juga akan menemukan cintanya sendiri tanpa bantuan kita. Biarkan dia percaya pada impiannya hingga impiannya itu terwujud. Kita hanya perlu ada untuknya," ucap Fajri.
“Hmm.. Aku mengerti.. Maafkan aku, Na,” bisik Lia sambil memelukku.
Kata-kata Fajri dan pelukan Lia membuatku tenang.
“Yaaahh tetep ajah kamu harus tanggung jawab Na! Biaya dekorasi dan sewa kafe ini nggak jadi ditanggung Arian. Jadi kamu yang bayarin yaa…”
“Serius lo Nald?!” seru Lia kaget.
“Heeuum iyaa.. seriusan.. bohong! Hahhaaahaha!”
Dan Rinald meskipun sering membuatku kesal, dia selalu menghiburku.
Aku merasa hembusan angin membawa pesan Ari seperti dalam mimpiku, “cintailah apa yang ada di hadapanmu, bukan di belakangmu.” Aku tersenyum menatap langit yang bertabur bintang dan berkata di dalam hati, "Sekarang aku mengerti pesan kamu, Ri. Aku sudah menemukan siapa yang harus aku cintai, mereka adalah sahabat-sahabatku. Mereka yang bisa menopangku saat aku berjalan tertatih dengan satu sepatu kaca ini.

-tamat-



*Kalau ini pernah dimuat di antologi Nulisbuku (lupa judulnya apa)
Jaman dulu nama 'Ari' ada disetiap cerpen dan draft novel hahaha
Semoga ga lelah membacanya! Ini fiksi kalau yang true story ada di
Antologi kisah cinta pertama : When You Lost Your First Love 1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar