Aku
kembali ke tempat itu, menemukan sepasang pinus. Di sela-selanya muncul seulas senyum
yang menarikku masuk. Ranting-ranting pinus tiba-tiba bergerak membuka jalan,
seperti tangan yang menyambutku. Perlahan aku melangkah menembus kegelapan, aku
tak dapat melihat dengan jelas
tapi aku merasa si pemilik senyum itu semakin dekat denganku. Si pemilik senyum
itu... aku yakin dia Ari!
Sepertinya dia masih
melangkah. Aku
dapat melihat bayangannya, tapi dia melangkah mundur! Jangan! Jangan pergi
lagi! Aku mohon kembalilah, Ri... Aku hendak mengejarnya, tapi ranting-ranting pinus yang kasar
mencengkramku. Dan
sayup-sayup aku mendengarnya berkata, “cintailah apa yang ada di
hadapanmu,
bukan di belakangmu.”
Aku
terbangun dan
menyadari semua itu hanya mimpi. Ini bukan pertama kalinya aku
memimpikan Ari. Dan bukan pertama kalinya aku tidak dapat
melihatnya dengan jelas.
Selama sembilan tahun aku kehilangannya, aku selalu kesulitan mengingat
wajahnya. Tapi aku juga selalu kesulitan menyingkirkannya dari hatiku. Semua
tentangnya tak pernah aku mengerti. Aku hanya merasa bahwa dia satu-satunya
orang yang aku cintai.
·
"Meina.. Lia udah datang nii!!!"
seru Mamah dari luar kamar.
Aku segera menemui Lia. Dia terlihat sangat bersemangat di
hari dinner pertamaku dengan Arian.
“Rinald sama Fajri nggak ikut?” tanyaku.
“Mereka lagi ngedekorasi kafe,” jawabnya sambil
mempersiapkan kosmetik yang akan merubah total penampilanku.
Setelah berjam-jam Lia mengotak-atik
wajahku, dia memintaku menggenakan gaun-gaun yang dia bawa. Aku menuruti semua
kata-katanya hingga acara make-over selesai. Saat Lia menyuruhku
bercermin aku tak menemukan bayanganku. Di hadapanku sedang berdiri seorang
Cinderella yang kehilangan sepatu kacanya sebelum berdansa dengan Pangeran,
seperti aku yang kehilangan cinta saat aku belum merasakan indahnya saling
mencintai. Mengingat cinta yang datang di masa kecilku membuat air mata tiba-tiba
menetes.
“Kenapa, Na?” tanya Lia heran
melihat air mataku.
Aku menggelengkan kepala, tidak
ingin membahas apa pun tentang Ari.
·
Lia mengantarku ke kafe tempat Arian
menungguku. Sepanjang jalan aku tak banyak bicara karena aku masih bingung
dengan semua ini dan tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku masih terbayang
sosok yang tadi di hadapanku. Cinderella dengan satu sepatu kacanya.
"Meina, kamu jadi aneh deh.
Kenapa diem terus?" tanya Lia.
"Nggak apa-apa, aku cuma ngebayangin
jadi Cinderella..” sebelum aku melanjutkan kata-kataku, aku melihat Lia
mengembangkan senyumnya. “Cinderella itu kehilangan sepatu kacanya sebelum
menemui pangeran impiannya. Tapi Ibu Peri yang baik tetap mengajaknya menemui
Pangeran. Pangeran lain yang menerima Cinderella meski menggenakan satu sepatu
kaca.”
"Haahaha maksud kamu, aku jadi
si Ibu Peri ya? Dan pangeran itu_"
Aku memotong ucapan Lia dengan
lanjutan ceritaku, "Cinderella merasakan sakit yang sangat dalam saat
kehilangan satu sepatu kacanya. Dan kini rasa sakit itu berlipat ganda, karena dia
terpaksa menggenakan satu sepatu kaca dan berdansa dengan pangeran yang bukan
impiannya."
Dahi Lia berkerut. "Ari.." ucapnya berbisik
seperti berkata pada diri sendiri.
"Pangeran impianmu Ari kan?!”
tanyanya dengan volume suara yang meninggi dan aku hanya menjawab dengan
anggukan kepala.
“Kenapa selalu Ari? Apa di hidup kamu yang terpenting cuma
Ari? Tolong lihat sekeliling kamu, Na. Banyak banget orang yang sayang sama
kamu, apa menurutmu itu nggak penting?"
Suasana kembali sunyi karena aku tak bisa
menjawab pertanyaannya. Kami benar-benar tidak berbicara lagi sampai tiba di
kafe. Sebelum aku keluar dari mobil, Lia menarik tanganku dan berkata,
"Meina maaf, aku cuma ingin yang terbaik buat kamu."
"Iya aku ngerti. Aku juga minta
maaf.. tadi itu_”
“Udah laa.. aku akan lupakan cerita bodohmu. Sekarang kamu
keluar dan berjanji tidak akan mengecewakanku,” ucapnya dengan hangat sebelum memelukku
erat.
Saat aku keluar dari mobil, Rinald
dan Fajri melihatku dari ujung kaki sampai kepala berulang-ulang. Fajri terus
membenarkan letak kacamatanya dan Rinald tertawa keras.
"Lia, jadi ini hasil karya
kamu?" ucap Rinald disela-sela tawanya.
"Iya, gimana? Meina cantik kan?"
tanya Lia dengan bangga.
"Cantik bangeeeet! Waahhhh...
kayak bukan Meina!" ucap Fajri terkagum-kagum.
" Aneh tahu! Masa si Meina jadi
cewek!" seru Rinald.
"Sialan! Emangnya selama ini
aku apa?! Bukan cewek?!" seruku kesal.
"Udah ah... jangan berantem
dulu. Kasihan, Arian udah nungguin Meina," ucap Lia sambil melerai aku dan
Rinald.
"Oh iya... Na kamu ikutin jalan
setapak itu ya,” tunjuk Fajri pada jalan yang diterangi lilin-lilin di
sampingnya. “Nanti di ujung jalan yang nggak ada lilin, Adrian akan ngirim sms
ke kamu," jelas Fajri.
Aku menuruti kata-kata Fajri. Namun
saat berjalan di jalan setapak tiba-tiba hinggap perasaan yang aneh, mataku
tiba-tiba pedih dan aku ingin menangis. Aku menghentikan langkahku dan menarik
nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan berharap perasaan aneh itu
terbawa oleh nafas yang tadi aku hembuskan. Dongeng Cinderella itu membayangiku
lagi. Cinderella harus melangkah menemui Pangeran lain dan melepas sepatu
kacanya sekarang juga. Dia yakin Pangeran itu akan memberinya sepatu baru,
seperti sepatu berlian atau sepatu emas, yang penting sepatu itu akan membuatnya
menikmati saat-saat berdansa dengan Pangeran.
Aku sudah berjalan menelusuri jalan
setapak dan sampai di tepi kolam berhias lilin berbentuk hati, Arian yang
berlagak seperti Pangeran menuntunku menaiki tangga, yang dibanjiri kelopak
bunga mawar merah. Tempat kami berada di tengah taman yang diterangi
lilin-lilin cantik, bintang-bintang, dan bulan. Musik romantis terdengar
sempurna di malam yang indah ini. Aku melihat kesekeliling dan melihat pohon
pinus di belakang Arian.
Aku merasa terganggu melihat pohon
pinus itu. Bayangan Ari terus menampakan diri dan mengacaukan keyakinan yang
baru aku bangun.
"Tahu nggak Na, aku seneng
banget lihat kamu hari ini_"
Hanya kata-kata itu yang mampu
kudengar dari Arian, karena aku tenggelam ke dalam lorong waktu yang membawaku
ke sembilan tahun silam.
Di rumahku yang dulu, aku memiliki
pohon pinus yang berdampingan dengan pohon pinus Ari. Setiap sore aku selalu bermain
dengan kelinci di taman dan saat itu Ari selalu diam disamping pohon pinusnya. Aku
tidak pernah tahu apa yang dia lakukan disana. Aku terlalu takut menyapanya,
bahkan saat melihatnya langsung aku merasa jantungku berdetak tak terkendali. Aku
selalu pura-pura tak melihatnya, hingga terakhir kali dia diam di samping pohon
pinusnya saat malam sebelum tahun baru, dia dan adiknya menyalakan kembang api.
"Na! Na, kamu dengerin aku ngomong
nggak sih?!" seru Arian mengagetkanku.
"Apa? Oh iya, aku denger
kok!" ucapku, berbohong.
“Sebenernya apa yang kamu pikirin
dari tadi? Apa kamu mikirin cowok lain?"
"Haaahh? Maksudmu apa?"
"Aku nggak suka kamu mikirin
cowo lain! Kamu kan milik aku sekarang, jadi kamu cuma boleh mikirin aku!"
"Aku milik kamu?! Maaf.. kamu
salah paham. Selama ini aku hanya menganggapmu kakak," ucapku spontan.
"Oh.. Jadi?! Aku cuma kakak?”
Maaf aku tidak bisa
membohongi hatiku, aku hanya ingin satu sepatu kacaku kembali. rintihku dalam hati. Aku
diam, membiarkan Arian memandangku dengan harapan aku akan berubah pikiran,
tapi aku tetap diam hingga dia menyerah dan pergi meninggalkanku.
Aku
melemah di kursiku dan rasanya tulang-tulangku melunak hingga tak mampu menopang
tubuhku lagi. Aku berusaha keras menahan sakit di dada dan sesak yang melilit
tenggorokanku, tapi rasa itu tak sanggup aku kendalikan dan akhirnya aku
luapkan dengan tangisan. Aku takut mengecewakan sahabatku.
Kemudian Lia, Rinald, dan Fajri menghampiriku.
"Kamu tahu?! Si Arian mau
dicomblangin karena dia lagi nyari pacar, bukan adek!" bentak Rinald.
"Meina, kamu kan udah janji?”
tanya Lia.
Aku tak bisa menjawab. Fajri yang
tenang mengelus rambutku perlahan. “Kata Lia di jalan kamu mikirin Ari. Apa itu
alasan kamu nolak Arian?” katanya lembut.
“Sampai kapan sih kamu mau mikirin Ari yang nggak jelas
keberadaannya? Cerita Cinderella itu fiksi Na! Kamu harus bangun dan hadapi
kenyataan! Jangan kayak gini terus!”
"Lama-lama aku juga capek
nyomblangin kamu terus!”
“Setiap orang menemukan cintanya dengan cara yang unik, jadi
Meina juga akan menemukan cintanya sendiri tanpa bantuan kita. Biarkan dia
percaya pada impiannya hingga impiannya itu terwujud. Kita hanya perlu ada
untuknya," ucap Fajri.
“Hmm.. Aku mengerti.. Maafkan aku, Na,” bisik Lia sambil
memelukku.
Kata-kata Fajri dan pelukan Lia membuatku tenang.
“Yaaahh tetep ajah kamu harus tanggung jawab Na! Biaya
dekorasi dan sewa kafe ini nggak jadi ditanggung Arian. Jadi kamu yang bayarin
yaa…”
“Serius lo Nald?!” seru Lia kaget.
“Heeuum iyaa.. seriusan.. bohong! Hahhaaahaha!”
Dan Rinald meskipun sering membuatku kesal, dia selalu
menghiburku.
Aku merasa hembusan angin membawa pesan Ari seperti dalam
mimpiku, “cintailah apa yang ada di hadapanmu, bukan di belakangmu.” Aku tersenyum menatap langit
yang bertabur bintang dan berkata di dalam hati, "Sekarang aku mengerti
pesan kamu, Ri. Aku sudah menemukan siapa yang harus aku cintai, mereka adalah
sahabat-sahabatku. Mereka yang bisa menopangku saat aku berjalan tertatih
dengan satu sepatu kaca ini.
-tamat-
*Kalau ini pernah dimuat di antologi Nulisbuku (lupa judulnya apa)
Jaman dulu nama 'Ari' ada disetiap cerpen dan draft novel hahaha
Semoga ga lelah membacanya! Ini fiksi kalau yang true story ada di
Antologi kisah cinta pertama : When You Lost Your First Love 1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar