Ini sebenarnya tugasku sebagai ghostwriter pemula, aku harus membuat ending cerita yang sulit ditebak. Aku mendapat beberapa referensi bacaan dari klien, tapi dalam deadline yang sempit dan kecepatan membacaku yang tergolong 'siput'. Akhirnya aku hanya mengingat novel-novel yang pernah kubaca sebelumnya. Ada 4 cara membuat ending cerita yang sulit ditebak. Cara ini berdasarkan kacamataku sebagai pembaca dan kebetulan keempat penulis ini adalah penulis yang menginspirasiku. Jadi langsung saja ke cara-cara ajaib menuliskan ending:
1. Novel Dee Lestari (Serial Supenova): memiliki pertanyaan, "Apa Supernova?" Di setiap ending-nya Dee memberi teka-teki sehingga pembaca tidak pernah mendapatkan jawaban. Justru menimbulkan banyak pertanyaan baru. Itu lah sebabnya membaca novel Supernova seperti tidak pernah merasa puas, tapi membuat pembaca merasa haus akan informasi yang lebih banyak lagi.
2. Novel Darren Shan (Serial The Saga of Darren Shan): memiliki pertanyaan, "Bagaimana nasib Darren sebagai asisten vampire?" Ceritanya mengalir seperti membaca buku harian Darren. Dikemas dengan sangat apik melalui fantasi dan petualangan. Ending-nya dikejutkan dengan kelahiran baru Darren sebagai Orang Kerdil. Bukan lagi menjawab pertanyaan tentang nasib Darren sebagai vampire, tapi memberi pertanyaan baru bagaimana Darren Si Orang Kerdil berperan dalam kehidupan Darren muda. Membuat pembaca harus membaca novelnya lagi dari seri awal.
3. Novel Dan Brown (Serial Robert Langdon): memiliki pertanyaan disetiap bab-nya yang pendek sekaligus memberi jawaban di bab selanjutnya. Baca novel Dan Brown seperti kumpulan pertanyaan dan jawaban yang saling terikat. Pertanyaan besarnya, "Kenapa Robert Landon dilibatkan dalam setiap masalah?" Ending-nya selalu berakhir sederhana, memberikan jawaban yang sederhana. Namun dalam perjalanan menuju jawaban besar, kita mendapat banyak jawaban dari banyak pertanyaan, yang artinya pembaca menjadi kaya informasi. Kenyang akan informasi.
4. Novel Torey Hayden: memiliki pertanyaan, "Bagaimana Torey menghadapi anak-anak istimewanya?" Novelnya jadi seperti buku panduan untuk seorang ibu dan guru yang memiliki anak-anak istimewa. Anak-anak yang secara psikologis 'berbeda' dengan anak pada umumnya. Torey memberi jawaban bukan dengan cara menunjukan kehebatannya yang berhasil menaklukan anak seliar Sheila, tapi Torey mengenalkan pembaca pada anak-anak istimewanya. Membuat pembaca mencintai mereka dan merasa seakan-akan pernah menyentuh, memeluk, bahkan menyisipkan nama anak-anak istimewa dalam doa. Torey berhasil melibatkan perasaan pembaca, bukan hanya menjawab pertanyaan tentang cara menghadapi anak-anak istimewa.
Jadi membuat ending bukan hanya soal menjawab pertanyaan pembaca. Aku bisa menggunakan cara Dee Lestari yang menjawab dengan teka-teki hingga menimbulkan lebih banyak pertanyaan. Bisa mengikuti jejak Darren, menjawab dengan pertanyaan baru. Asalkan pertanyaan baru itu terikat dengan keseluruhan cerita dari seri pertama.
Cara Dan Brown juga bisa dicontoh, asalkan kamu punya banyak referensi dan melakukan riset secara serius, karena yang terpenting bukan pertanyaan dan jawaban besarnya, melainkan pertanyaan dan jawaban di setiap bab-nya.
Lalu bagaimana dengan cara menulis Torey Hayden? Novelnya yang berdasarkan pengalaman pribadi dan sesuai dengan pekerjaannya sebagai guru, mungkin bisa dicontoh oleh kamu yang memiliki pengalaman menarik dengan pekerjaanmu. Syaratnya gunakan perasaan dalam menulis, tuliskan tentang orang yang terlibat di pekerjaan atau kehidupanmu, bukan untuk pamer kehebatanmu sendiri.
Sekian.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar