Pages

Jumat, 09 Desember 2016

Dunia Memerlukan Orang Melankolis

Sehabis baca buku ini, aku mengenal diriku lebih dalam. Aku yang mudah sakit hati dan tertekan. Aku yang selalu teringat kata-kata negatif dan menyimpan dengan apik rekaman buruk. Aku yang selalu menunda-nunda pekerjaan, karena ingin hasil yang sempurna. Aku yang kesal melihat barang tidak pada tempatnya. Ya, itu karena aku Melankolis.

Aku pikir ini buruk, karena Melankolis rentan depresi, berwajah muram, dan pesimis. Setelah membaca lebih banyak lagi, aku paham. Dunia tanpa orang Melankolis, tidak akan ada puisi, seni rupa, kesusastraan, falsafah, atau simfoni. Dunia akan kehilangan budaya, peradaban, cita rasa, dan bakat yang terpendam di dalam sifat-sifat kita. Dunia akan memiliki lebih sedikit insinyur, pencipta, ilmuwan, lalu pembukuan kita hilang dan kolom-kolom menjadi tidak seimbang. Ya, orang Melankolis adalah jiwa, pikiran, semangat, dan jantung kemanusiaan. Aristoteles mengatakan, "Semua orang Jenius punya watak Melankolis."

Orang Melankolis dapat melakukan hal yang tidak bisa orang lain lakukan. Penulis, pelukis, dan musikus biasanya orang Melankolis. Michelangelo juga orang Melankolis, sebelum dia memahat patung klasiknya Moses, David, dan Pieta, dia melakukan penelitian yang intensif terhadap tubuh manusia. Dia pergi ke kamar mayat dan dia sendiri yang membedah mayat untuk mempelajari otot dan urat. Michelangelo juga seorang arsitek, dia menulis puisi, dan membuat lukisan fresco di langit-langit Kapel Sistine di Vatikan, Roma. Sembilan adegan dari Kitab Kejadian ini memerlukan waktu empat tahun untuk diselesaikan dalam posisi berbaring, menelentang setinggi tujuh puluh kaki di atas tanah. Kalau Michelangelo orang Sanguinis, mungkin dia akan melupakan cat merahnya lalu turun lagi, atau bahkan dia akan kehilangan perhatian terhadap seluruh proyek dan berhenti, meninggalkan Adam tanpa daun ara selembar pun.

Orang Melankolis seorang yang perfeksionis dan menginginkan teman hidup ideal. Berbeda dengan Sanguinis yang punya banyak kenalan dan dapat menerima siapa pun orang yang datang untuknya. Orang Melankolis seringkali membuat daftar atribut yang diinginkan dari pasangannya. Percaya atau tidak, aku membuat 99 tipe ideal yang sempurna. Di buku ini, penulis mengatakan bahwa mencari yang ideal dalam hidup merupakan tujuan yang positif, tetapi kita harus menyadari kalau kita tidak akan menemukan orang yang sempurna. Aku sadar kalau aku tidak bisa menuntut seseorang menjadi sempurna.

Di buku ini juga dijelaskan masalah dan pemecahannya. Masalah orang Melankolis yang mudah tertekan, disarankan untuk 'merasa' gembira. "Kau tidak harus 'merasa' gembira, bergembiralah saja. Aku lebih suka punya 'kegembiraan' palsu daripada tekanan jiwa yang sesungguhnya."

Orang Melankolis biasanya mengalami kesulitan dengan orang Sanguinis atau Koleris karena mereka mengutarakan seketika apa yang melintas dalam pikirannya tanpa mempertimbangkan akibatnya. Itu sebabnya aku selalu menafsirkan bahwa setiap komentar sambil lalu pun punya arti tersembunyi yang mendalam. Aku juga akhirnya sadar bahwa mereka tidak secara sengaja menjatuhkanku. Mereka tidak terlalu memikirkan diriku dan tidak merencanakan apa pun sebelumnya.

Ya, hidup bersama Sanguinis dan Koleris bukan hal yang mudah. Kalau aku mulai memahami watak mereka, aku akan terbiasa dengan komentar sambil lalunya. Namun aku juga ingin mereka memahami watakku. Pikiran orang Melankolis seperti pemutar gelombang radio tempat stasiunnya disetel pada segi negatif, kecendrungan negatif bawaan, yang membuatku memusatkan penilaian paling keras pada diri sendiri. Menjadi hal yang logis apabila orang menggunakan banyak energi mental untuk mengingat hal-hal negatif, maka pikirannya mudah terjerumus ke dalam depresi.

Aku belum sampai di titik itu. Aku harap tidak pernah. Seringkali aku mendengar orang-orang berkata negatif tentang diriku atau orang lainnya. Hal itu membuatku tertekan hingga memilih menarik diri dan menjauh. Orang Melankolis butuh orang-orang positif, bukan orang yang senang membicarakan keburukan orang lain atau orang yang suka mengkritik ini itu. Orang seperti itu seperti menarikku ke pintu 'depresi'. Sungguh!

Sulitkah menjadi orang yang positif untuk orang Melankolis?

Citra diri rendah yang dimiliki orang Melankolis, membuatku sering mencari pujian dalam cara halus yang bahkan tanpa disadari ada di dalam diriku sendiri. Meskipun orang Melankolis punya potensi besar untuk sukses, aku sering menjadi musuh untuk diriku sendiri.

Masih banyak hal yang bisa disampaikan dari buku  Personality Plus” karangan Florence Littauer.  Aku hanya membagi sebagian kecilnya, sehubungan dengan masalahku. Kenyataannya banyak dari kita yang tidak paham dengan watak orang-orang di sekitar kita. Sanguinis yang ingin bersenang-senang, Melankolis yang sensitif, Koleris yang keras, dan Phlegmatis yang santai.

Sebaiknya kalian baca sendiri ya bukunya :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar