Pages

Selasa, 17 Mei 2016

Petani yang Menuai Benih

Di masa depan, ketika tak ada lagi tanah untuk menumbuhkan tanaman. Seorang pemuda bercita-cita menjadi petani. Cita-cita mulia itu terdengar sampai ke pelosok negeri dan menggugah hati seorang dermawan yang kaya. Dia lalu menawarkan sehektar tanah di pekarangan rumahnya.

“Kau punya tana
h luas, tapi di sini tak ada satu pun tanaman?” tanya pemuda itu ketika menjejakan kaki di tanah yang kering dan berbatu. Dia melihat sekelilingnya, hanya ada gedung tinggi yang berlomba mencakar langit. Rumah pria dermawan itu berbeda dengan rumah lainnya, bergaya kuno dan bertingkat dua. Sedangkan rumah lainnya tinggi berdesain futuristik.

“Kau tahu sendiri kan, Dunia sudah berubah. Aku sangat ingin makan sayuran dan buah-buahan yang segar. Aku tak suka makan pil,” katanya.


“Baiklah aku akan mengelola tanah ini hingga kau bisa memetik sayuran dan buah-buah yang segar! Serahkan semua padaku!” seru pemuda itu optimis.

Pria dermawan memberikan segala kebutuhan yang diperlukan si pemuda. Bahkan alat-alat pertanian dia ciptakan sendiri, mereka berdua bersama-sama menyiapkan tanah gembur, lalu si dermawan pergi keliling dunia demi mendapatkan benih.


Ketika si pemuda sendirian termenung memandangi tanah yang mulai gembur, keluarga si dermawan datang dengan angkuhnya. Mereka mengeluhkan pekarangan rumah yang kotor dan bau tanah. Belum lagi saat hujan turun, pakaian mereka kotor oleh lumpur, kendaraan mereka tidak bisa melintas dan rusak setiapkali melewati tanah. 


Keluarga si dermawan sampai hati mengusir si pemuda, namun si pemuda tidak juga bergerak dari atas tanah. Cita-citanya harus terwujud di atas tanah itu. Sekalipun dilempar batu, ditendang, dan diseret keluar dari pekarang rumah si dermawan, dia tak juga pergi.


Pria dermawan pun pulang dari perjalanannya, dia mengalami banyak hal sulit ketika mencari benih. Pria itu menangis, berharap pengorbanannya tidak sia-sia. 


Si pemuda langsung menyemai benih dan menaunginya dengan plastik agar tidak terkena sinar matahari dan hujan secara langsung. Pemuda itu dengan telaten merawatnya hingga bibit tanaman muda muncul. Namun bibit tanaman ternyata mendatangkan masalah baru. Menarik perhatian hewan yang telah dianggap mitos kala itu. Jangkrik, pengerek daun, ulat, lalat buah, kutu, dan kumbang berdatangan. 


Kota gempar karena kedatangan hewan-hewan itu, tak jarang mereka masuk ke dalam rumah dan mengganggu aktivitas penduduk. Pria dermawan mendapat teguran dan diminta bertanggung jawab atas kekacauan yang terjadi. Dia pun merelakan harta dan uangnya untuk menutup mulut para penduduk yang protes.


Keluarga si dermawan semakin terganggu dan mengancam mereka akan meninggalkan pria itu. Setelah kehilangan hartanya, apa dia harus kehilangan keluarganya? Pria itu sangat sedih dan tertekan. Dia pun menemui si pemuda yang sedang meramu pestisida.


“Kau tuai lah benih itu, aku tak ingin lagi makan sayuran atau buah,” katanya.


“Tapi... tapi aku sedang membuat pestisida dan aku yakin ini akan berhasil!” seru si pemuda. Perasaannya sakit dan kecewa, dia tak ingin berhenti.


“Sudahlah... lupakan cita-citamu itu,” katanya lalu berbalik tanpa menatap mata si pemuda yang telah berkaca-kaca. Si pemuda menangis sesenggukan.


Istri si derawan tersenyum sinis melihat si pemuda menangis. “Kau harus mengembalikan benih dengan utuh! Harga benih jika dijual lagi akan mengembalikan harta dan uang suamiku. Kalau tidak utuh, kau akan kulaporkan sebagai pencuri!”


Si pemuda kebingungan, bagaimana dia mengembalikan benih sedangkan benih sudah menjadi bibit. Sebagian bahkan habis dimakan hama. Kalau dia mau benih, setidaknya bersabarlah lebih lama. Jika benih sudah tumbuh menjadi tanaman, dia akan mendapatkan keuntungan besar, bukan saja benih yang berlipat ganda, melainkan sayuran dan buah-buahan yang bisa dimakan dan dijual dengan harga tinggi.


Pemuda itu pun pasrah dan menuai benih yang ada. Jika benih yang terkumpul tidak utuh, maka dia akan menyerahkan diri. Dia tidak merasa bersalah karena cita-citanya sebagai petani. Dia memaklumi sikap mereka yang tidak mengerti cara memperjuangkan cita-cita.


-Tamat-


Original created by : Wishoshi Hana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar