Pages

Selasa, 19 April 2016

Berfokus pada Impian

Benar kata Ka Ikavuje, aku tak boleh menggantungkan kebahagianku pada orang lain. Kalau orang itu pergi meninggalkanku? maka aku akan bersedih lalu bunuh diri? TIDAK! Kebahagiaan ada di tanganku dan Tuhan membantuku mewujudkannya! Aku punya Tuhan yang Maha Berkehendak! Aku tidak takut kebahagiaanku hilang jika aku berada di dekat-Nya. Aku akan menggenggam bahagiaku dengan erat.

Lalu bagaimana jika keadaan menjatuhkanku? Ingat kata MasWid, jangan menyerah pada keadaan. Ingat bagaimana aku ingin menyerah saat di Gunung Sindoro, tapi aku kembali bertekad dan terus berjalan. Ya, apa pun yang terjadi jangan berhenti melangkah. Jatuh. Bangun lagi. Tegakkan badan. Berjalanlah. Berfokus pada impian. Wujudkan impian dan jangan pernah menyerah pada keadaan.

Aku mungkin iri, melihat teman-temanku sudah berkeluarga, pelesiran ke luar negeri, atau kerja di perusahaan besar. Hei! Ingat lagi impianku! Membangun ruko LLOVER, menjadi seorang penulis novel, mendaki Gunung Jayawijaya, dan tentunya berkeluarga. Tuhan ternyata sedang memberiku waktu untuk mewujudkan impianku yang lain. Jangan habiskan waktu untuk iri pada orang lain!

Lihat! Gunung Jayawijaya masih menyisakan puncak es untukku! Aku harus menjejakan kaki di sana dan mencium butiran es! Sebelum itu, aku harus kembali berlatih, menabung, dan pemanasan di gunung lainnya. Tak ada yang tak mungkin, kalau aku percaya Kebesaran Tuhan.

Impian menjadi penulis pun sudah lama berjamur di dalam kepala. Tak sempat aku wujudkan karena tekadku selalu goyah. Aku lebih banyak tidur daripada menulis. Kalau aku ingin jadi penulis, aku harus lebih banyak menulis daripada tidur! Bermimpilah sebentar, lalu bangun untuk mewujudkannya!

Lalu apa kabar LLOVER? Kau terlalu nyenyak tidur nak? Aku tak bisa dengan kasar atau terburu-buru membangunkannya. Aku akan membangunkannya perlahan.

Jika impianku di atas sudah terwujud. Tinggal lah mewujudkan impian berkeluarga. Sama seperti perempuan lain, aku juga ingin memiliki seorang suami yang baik dan setia, aku pun ingin mengandung dan memiliki anak. Kelak aku akan mewarisi mereka dengan ilmu, pengalaman, keberanian, dan impian yang lebih besar dari impianku. Aku ingin mereka jadi anak-anak yang cerdas, tangguh, dan sederhana.

Namun, impianku bisa saja tidak terwujud, jika aku terlalu mendengarkan orang lain bicara. Aku yakin, tak lama lagi akan ada sindiran atau nasehat kuno yang menyuruhku segera menikah. Hei! Pernikahan bukan akhir dari segalanya, apakah setelah menikah aku akan hidup bahagia selamanya seperti dalam dongeng? TIDAK. Apakah jika tidak menikah aku akan mati kesepian? TIDAK. Pernikahan bukan akhir.

Aku pun ingin menikah, tapi aku tak ingin terburu-buru dan memaksakan diri. Kalau memang belum ada pasangan yang tepat, aku harus bagaimana? Kalian pasti menyuruhku mencari. Oke anggap saja dalam perjalananku sekarang, aku sedang mencari, tapi kalian harus tahu 'mencari' itu bukan tujuanku. Bertemu atau tidak itu adalah bonus. Tujuanku tetap mewujudkan impian. Berfokus pada impian.

Oke. Kita sama-sama berfokus! Jangan gagal fokus terus! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar