Pages

Kamis, 14 April 2016

Cita-cita Athar

Sore itu selesai les Matematika, aku melihat sisa uang di sakuku. Aku menghela nafas, bersyukur masih bisa membeli sebotol air mineral. Saat akan berjalan ke kantin sekolah, ada dua orang pria bertubuh besar, berkulit gelap, dan menggunakan kaos hitam ketat. Mereka melewatiku. Aku mencoba mengabaikannya meskipun ada rasa penasaran, untuk apa mereka di sekolah sore-sore begini?

"Bu, beli air mineral satu," kataku pada Ibu kantin yang sedang berkemas.

"Eh, Athar baru selesai les? Ibu baru mau pulang," katanya ramah.

Aku mengiyakan lalu mengambil sebotol air mineral dari atas etalase dan menyerahkan uang pada Ibu kantin. Aku tiba-tiba teringat dua pria itu, jadi aku memutuskan mencari tahu apa yang mereka lakukan di sekolah. Semoga saja mereka bukan orang jahat, pikirku sambil membenarkan letak kacamata.

Mulai terdengar suara ribut seperti orang bertengkar dan tangisan. Jantungku berdetak kencang. Kakiku melangkah mundur. Kalau mereka orang jahat, aku tak mungkin melawannya. Semua guru juga sudah pulang. Kalau pun ada penjaga sekolah, dia sudah terlalu renta, dan tubuhnya sangat kurus. Kami berdua harus melawan dua pria berotot kekar, tinggi, dan besar? Itu tidak mungkin!

Aku lihat dua pria itu membawa tas Ibu Cantika, mengeluarkan isinya ke lantai lalu memungut kunci mobil. Mereka pun pergi ke arah tempat parkir. Aku melihat Ibu Cantika, guru Matematika-ku menangis.

Ragu-ragu aku memungut barang Ibu Cantika dan memasukannya ke dalam tas kulit branded. Semua barangnya branded, dari iPhone seri terbaru, make up, bahkan kacamata hitamnnya juga berhias permata. Ibu Cantika memang guru paling cantik di sekolah, tapi melihatnya menangis seperti ini aku jadi kasihan padanya. Semoga saja dia baik-baik saja, ucapku dalam hati saat menyimpan tasnya di meja.

"Athar, Ibu boleh pinjem uang?" tanyanya tiba-tiba sambil menghapus air mata.

"Uang saya abis, Bu. Maaf." Aku menelisik wajahnya yang berubah cemas.

"Aduh, gimana ini? Suami Ibu di luar kota, mobil Ibu diambil orang, uang sama pulsa Ibu juga habis."

"Saya bawa sepedah, Bu. Kalau mau, Ibu boleh ikut."

"Naik sepedah? Rumah Ibu jauh loh," ucapnya sedikit tak menyangka.

"Rumah saya dekat. Kalau mau, Ibu bawa sepedah saya, biar saya jalan kaki."

"Jangan, nanti Ibu saja yang antar kamu ya. Tapi... Ibu tidak bisa ketemu orang tua kamu."

"Tidak apa-apa, Bu. Saya mengerti," kataku.

Ibu Cantika mungkin merasa malu kalau bertemu orang tuaku. Tapi tetap saja aku harus menceritakan pada mereka tentang yang dialami Ibu Cantika. Aku sungguh ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.

***

Dalam perjalanan pulang, Ibu Cantika kelihatan kewalahan menggoes sepedahku. Padahal sepedahku cukup besar dan berat badanku tidak seberapa. Kalau begini, akan lebih cepat jalan kaki.

Setibanya di rumah, aku ingat masih menyimpan sebotol air mineral yang belum sempat aku minum. Aku menyerahkannya pada Ibu Cantika. Dia terlihat kelelahan dengan keringat sebesar biji jagung di pelipisnya. Ibu Cantika menerima sebotol air mineralku tanpa mengatakan apa pun, lalu menegaknya sampai habis. Di saat senja menunjukan semburat jingganya, Ibu Cantika berlalu dengan sepedahku.

"Athar, kemana sepedahmu?" tanya Ibuku yang keluar dari rumah.

"Dipinjam Ibu Cantika, Bu," jawabku lalu masuk ke dalam rumah.

Di ruang tamu aku melepaskan sepatu dan Ibuku masih bergeming.

"Kamu bercanda, Athar? Kenapa Ibu Cantika meminjam sepedah? Bukannya dia  bawa mobil mewah?" tanya Ibuku yang kini duduk di sampingku meminta penjelasan.

"Iya, tadi sepulang les ada yang ambil mobil Ibu Cantika."

"Dirampok?!" Ibuku terkejut.

"Sepertinya bukan. Orang itu keluar membawa tas Ibu Cantika dan mengeluarkan isinya. Kalau perampok, seharusnya iPhone Ibu Cantika juga diambil, tapi orang itu cuma membawa kunci mobil, Bu."

"Oh, Ibu mengerti. Mungkin itu dari leasing, biasanya kalau terlambat membayar hutang mobilnya akan diambil. Ya, Ibu tidak tahu pasti sih. Sudah lah, sekarang kamu cuci kaki terus makan ya."

***

Aku terus memikirkan kata-kata Ibu tadi, Ibu Cantika berhutag?

Selama ini, aku pikir Ibu Cantika punya banyak uang karena selalu tampil mewah. Aku pikir seorang guru tak mungkin sampai lupa diri hanya untuk membeli barang-barang mewah, lalu menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya, salah satunya dengan berhutang. Guru tak mungkin mata duitan kan?

"Athar, kalau makannya sudah habis langsung minum, bukannya melamun," tegur Ibuku.

"Bu, kenapa Ibu Cantika berhutang?" tanyaku penasaran.

"Jadi gini, kadang orang dewasa itu keinginannya lebih besar dari kemampuannya. Mampunya beli motor, malah beli mobil. Mampunya beli smartphone seharga 2 juta malah beli iPhone. Begitu seterusnya sampai keinginannya tidak terpenuhi dan berhutang banyak di sana sini."

"Tapi kan, Ibu Cantika dapat gaji dari mengajar? Apa itu tidak cukup, Bu?"

"Athar sayang, gaji guru itu tidak sebesar gaji pegawai Bank. Berbeda dengan di Negara maju seperti Singapura, Amerika, Inggris, Finlandia yang menggaji guru sampai puluhan juta perbulan. Tapi menjadi guru di sana juga tidak mudah, IQ mereka harus di atas rata-rata Manager perusahaan, karena mereka harus memiliki ilmu dan kreatifitas yang kompleks. Tidak cukup dengan mengerti dasar 1+1=2."

"Athar tetap ingin jadi guru, tapi nggak ingin mata duitan apalagi sampai berhutang kayak Ibu Cantika. Kira-kira Athar bisa nggak ya, Bu?" tanyaku diliputi keraguan.

"Athar pasti bisa. Belajar terus dan tingkatkan ilmu yang dimiliki. Lalu ingat tujuan mulia Athar menjadi guru yaitu untuk mendidik. Dengan begitu Athar tak akan terhasut keinginan yang sebenarnya tidak perlu, sesuaikan keinginan dengan kemampuan dan tetap menjadi pribadi yang sederhana. Ibu percaya, kamu pasti bisa mewujudkan cita-cita," ucap Ibu memberiku motivasi sambil membelai rambutku.

Aku mengangguk. Tanganku mengambil segelas air putih di meja, lalu menegaknya. Sudah dari sepulang les aku kehausan, baru sekarang aku dapat minum. Rasanya segar! Sebenarnya akan lebih segar kalau minum minuman bersoda dingin, tapi itu keinginan yang tak perlu! Di rumah hanya ada air putih. Ya seperti kata Ibu, kemampuanku hanya minum air putih, jadi aku harus menyingkirkan keinginan untuk minum minuman bersoda. Di mulai dari hal kecil kan, aku bisa mulai membiasakan diri.

-Tamat-


Sumber riset soal gaji guru: abangboe

Cerpen ini dibuat sebagai kado ulang taun Athar
Maaf ya kalau ada yang tidak sesuai :) semoga cita-cita Athar terwujud!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar