Pages

Selasa, 05 April 2016

Kamu yang Telah Pamit


Surat untukmu yang telah pamit.

Aku tidak ingat kapan lagu ini ada di playlist-ku. Mungkin teman di grup WhatsApp yang mengirimnya. Saat pertamakali mendengarnya, aku langsung teringat kamu. Aku menangis, untungnya sebelum hujan turun. Karena aku masih memegang janjiku pada langit, aku tak akan menangis saat hujan turun.

Kamu yang telah pamit. Aku sudah berusaha melupakan dan membencimu. Rasanya tidak mudah. Aku selalu merasa seakan-akan mendengar suara kamu. Ingat betapa konyolnya kamu saat kecil dulu. Ingat semua pesan sepele yang kamu katakan sebelum aku tidur. Aku masih ingat semuanya.

Kamu bukan yang istimewa. Banyak hal yang tak sesuai harapanku tapi entah kenapa kamu membuatku merasa istimewa. Kamu, orang pertama yang membuatku merasa dicintai, setelah berkali-kali aku merasa mencintai tanpa dicintai. Kamu, orang yang menerimaku, disaat aku banyak menuntutmu. Saat itu aku benar-benar takut kehilanganmu, tapi aku juga ingin tahu seberapa takut kamu kehilanganku.

Lalu, setelah kamu pamit, apa kamu pikir aku ingin kamu kembali? Tidak.

Ada hal yang tidak bisa kamu mengerti. Kamu pergi di saat aku butuh kamu. Aku butuh pendengar, tapi kamu menyibukan diri dan mengabaikanku. Aku butuh penenang, tapi kamu bersikap dingin dan marah karena sikapku. Aku sudah jelaskan alasan aku bersikap, tapi kamu tak mau mengerti.

Dulu, ingat saat kamu bercerita semalaman lalu memintaku menyanyi lagu 'Hachi Si Lebah'? Aku merasa kau akan mengerti rasanya menjadi aku yang sekarang, karena kamu pernah mengalaminya saat kecil dulu. Tapi kamu mengejekku dan berkata aku terlalu banyak baca novel.

Kamu mulai tak percaya padaku, tak mau mengerti aku, dan tak mau mendengarku. Maka sejak saat itu aku ijinkan kamu pamit. Pergi lah, dan tetap menjadi teman baikku.


Dari teman baikmu,
Aku akan selalu doakan yang terbaik untukmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar