Kamu ada di sana hai Penunggu Pinus?
Sampai kapan kamu akan termenung di puncak pohon pinus? Apa kamu masih menunggu bintang jatuh? Kenapa kamu selalu menggantungkan harapan pada bintang yang sekelebat melintas di pekat malam? Padahal sudah jelas aku di sini mengharapkanmu.
Apa kamu tahu, aku sudah lama menyukaimu. Aku jatuh cinta ketika mata kita bertemu di malam penuh bintang di antara bayang sepasang pohon pinus. Aku jatuh cinta ketika kamu berdiri mematung di samping pohon pinus tanpa mengusikku. Kamu merasa cukup dengan mengamatiku yang sedang berkejaran dengan kelinci lain, lalu saat malam menjemput kamu kembali memanjat pohon pinus.
Penunggu Pinus, aku tahu rasanya tak masuk akal mencintaimu yang bahkan namamu saja aku tidak tahu. Wujudmu saja hanya berupa bayangan. Namun sorot matamu tak akan pernah aku lupa. Pada malam-malam aku menggigil kesepian, aku akan memanggil namamu, dan rasanya kamu hadir membelai rambutku dan mengecup dahiku lembut hingga aku tertidur. Aku sungguh bisa merasakannya atau mungkin itu hanya ilusi karena aku terlalu mengharapkanmu?
Percayalah, meskipun wujudmu tak nyata namun cintaku ini nyata dan terus bertumbuh. Senyata pohon pinus yang terus tumbuh hingga puncaknya dapat menyentuh bintang paling terang di langit.
Penunggu Pinus, aku rasa sudah cukup surat dariku. Jika malam ini kamu menemukan bintang jatuh berharaplah agar di kehidupan mendatang kamu tak lagi menjadi Penunggu Pinus namun menjadi Penunggu Rumah tempatku pulang.
Salam,
Kelinci Putih
*Surat ini dikirim melalui lorong waktu ke tahun 1999
**Wujud disamarkan karena Penunggu Pinus sudah menikahi Bintang
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
ini bagus sekali seperti cerita peri, semangat terus yaa
BalasHapus-Ikavuje
makasii ka :) semangat juga buat kakpos terkece
Hapus