Pages

Jumat, 19 Februari 2016

Kakak

Surat ini mungkin tak akan sampai pada Kakak.

Kak... terimakasih sudah bersedia menjadi Kakak untuk aku yang sebelumnya tak pernah merasakan kasih sayang seorang Kakak. Aku terlahir sebagai anak pertama sekaligus cucu pertama. Aku seringkali memimpikan sesosok Kakak yang melindungiku, sampai akhirnya kamu datang mewujudkan impianku. Darimu aku belajar menjadi Kakak yang baik, meskipun memang belum sebaik kamu.

Kamu sangat baik Kak. Kamu sabar menghadapi sikapku yang kekanak-kanakan. Kamu bisa membaca perasaanku, mengerti aku, dan dengan tulus menyayangiku. Aku selalu ingat semua pengorbanan kamu. Di saat aku memaksamu datang menemaniku mencari buku, kamu mengorbankan mata kuliahmu. Di saat aku merengek ingin mengobrol denganmu, kamu pergi ke telepon koin dan berjam-jam berdiri di sana mendengarku bercerita, kadang apa yang aku ceritakan tidak terlalu penting tapi kamu tidak pernah menutup telepon lebih dulu. Kamu juga mau aku ajak nonton acara musik di Ciwalk, padahal kamu pusing kalau ada di tengah keramaian. Aku bahkan masih merengek meminta nonton di depan panggung, tak peduli kamu yang pusing dan mulai lemas. Ya aku benar-benar keterlaluan!

Aku ini egois, jahat, dan menyebalkan, tapi kamu tak pernah menyerah. Aku juga sempat mematahkan hatimu saat kamu menyatakan perasaanmu, waktu itu aku mengatakan hanya menganggapmu sebagai Kakak, tidak lebih. Setelah itu apa kamu pergi dan melupakan aku Kak? tidak pernah. Kamu masih mentraktirku makan, menanyakan kabarku, menelponku, seperti tak ada habisnya perasaan sayang itu. Padahal jika orang lain yang aku perlakukan seperti itu, mereka sudah pergi sejak awal.

Memang terselip penyesalan, karena setelah kamu belum ada lagi orang yang sebaik kamu. Belum ada lagi orang yang mau berkorban begitu besar untukku. Belum ada lagi orang yang sabar menghadapi rengekan, sifat kenak-kanakan, emosi yang labil, dan segala keburukan sifatku. Ya, belum ada lagi Kak orang yang bisa membaca perasaanku, mengerti aku, dan menyayangiku setulus kamu. Memang sempat terlintas beberapa orang dalam hidupku, tapi tak ada yang bertahan selama kamu Kak.

Kamu benar-benar luar biasa baik Kak. Itu sebabnya Tuhan menjodohkanmu dengan orang yang baik, wanita yang jauh lebih baik dari aku. Cerita kita pun berlalu dan aku menutup bukuku. Aku tak mau lagi mengganggumu dan mengusik bahagiamu. Setelah bertahun-tahun kamu sabar menghadapiku, kini saatnya kamu memetik buah dari kesabaran itu. Berbahagia lah Kak.

Ade selalu menyayangimu.

2 komentar:

  1. suatu hari, akan ada yang menyayangimu tanpa pamrih, yang mencintaimu sungguhsungguh. semangat selalu yaaa


    -Ikavuje

    BalasHapus
    Balasan
    1. amin ka :) makasii banget yaa selalu ngasih semangat

      Hapus