Pages

Sabtu, 20 Februari 2016

Guruku, Jangan Dulu Nikah

"Pa jangan dulu nikah ya, sebelum saya lulus dari sekolah dan pesantren ini?"
Bapak ingat ada siswi yang mengatakan itu di akhir kegiatan belajar mengajar. Siswi itu bukan aku Pa, aku siswi lain yang juga ingin mengatakan hal yang sama. Jika dia mengatakan itu karena takut setelah menikah Bapak meninggalkan sekolah dan pesantren, aku takut Bapak meninggalkanku.

Rasanya aku malu mengatakan ini pada Bapak, di sekolah pun aku selalu menunduk dan tersipu saat Bapak menyebut namaku. Namun saat Bapak kembali ke depan kelas dan menerangkan pelajaran, aku begitu mengagumi sosok Bapak. Bapak seorang guru muda yang menikmati proses belajar mengajar, air muka Bapak selalu tenang dan sabar, kata-kata Bapak selalu memotivasi dan berapi-api, ilmu yang Bapak ajarkan bagaikan lilin-lilin kecil yang menuntun kami berjalan menuju masa depan yang cerah.

Aku juga melihat Pak Guru sebagai orang yang sederhana dan mau terus belajar, karena aku dengar Bapak pernah pergi jauh ke Kampung Pare untuk belajar Bahasa Inggris, Bapak juga melanjutkan kuliah S2, dan yang aku dengar lagi Bapak sedang belajar menulis? Terus lah seperti itu Pak, menjadi Guru yang haus ilmu, Guru yang terus belajar, belajar dan belajar agar kelak siswa-siswimu mendapatkan pengajaran dari apa yang telah Bapak pelajari. Sesungguhnya tak ada ilmu yang sia-sia kan Pak.

Sekian surat dariku. Jangan terlalu diambil hati kutipan di atas ya Pak.


Salam, dari salah satu siswi di sekolah.
Untuk Bapak Guru Dhen Purbaya

4 komentar:

  1. waahh, pak gurunya pasti senang membaca dan semakin semangat mengajarnya yaaa, kamu juga semangat terus mengejar citacita yaaa


    -Ikavuje

    BalasHapus
  2. wah terharu teh bacanya, mudah2n jadi do'a dan motivasi juga.
    teh juga terus untuk berkarya '-'
    warnailah orang orang yang ada disekeliling dengan warna yang dimiliki.

    BalasHapus