Pages

Minggu, 24 Januari 2016

Pragmatis, Pragmatik.

Sebelum pulang, karena hujan besar juga aku mau nulis apa yang baru saja dibahas di grup Supernova. Tentang aku yang ‘katanya’ pragmatis, ya sebelum ini sahabatku bilang aku idealis. Aku menangkap makna Pragmatis itu sebagai kebalikannya Idealis.

“Seorang mahasiswa yang dari awal pragmatis, mentargetkan lulus kuliah cepat, dengan IPK tinggi, dan mengantongi beragam sertifikat dari berbagai organisasi, begitu lulus langsung bekerja, bila nyantol di perusahaan besar lebih baik, tapi jika tidak lompat-lompat dari satu tempat ke tempat lain tidak buruk, lalu bekerja keras mencapai level yang lebih tinggi di perusahaan, menikah, lalu punya anak dan hidup sejahtera. Itu semua adalah rencana hidupnya, tapi begitu ia merasakan bekerja di perusahaan besar, tiba-tiba ia menjadi berpikir: sebenarnya untuk apa aku hidup? Untuk apa aku bekerja? Apakah semata karena kesejahteraan? Akhirnya ia pun bisa menuju jalan yang berbalik arah, ia memilih bekerja sosial yang tidak dibayar pun tidak apa-apa. Kalau orang bilang, mahasiswa tipe ini adalah mahasiswa pragmatis yang menjadi idealis.” (Sumber: Suararaa)

Ya tepat aku merasa tergambarkan dengan contoh di atas, seorang yang pragmatis lalu menjadi idealis. Tapi ternyata bukan itu yang dimaksud, ada satu hal lagi yang tidak ada kaitannya dengan sifat melainkan dari cara penyampaian pesan.

Ada teori yang lumayan bikin greget:

“Batas bahasa adalah batas dunia. Itulah ungkapan filsuf bahasa L.Wittgeinstein dalam buku masterpiecenya Tractatus Logico-Philosophicus. Artinya, makna dalam bahasa merupakan ungkapan realitas dunia. Bagi Wittgeinstein, bahasa harus memiliki makna, karena makna itulah yang akan menjadikan realitas dunia. Sederhananya, setiap kata haruslah memiliki arti yang jelas agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam penggunaannya.” (Sumber: bepe10)

Garis bawahi tentang ‘kesalahpahaman’. Lalu apa yang membuat aku menjadi pragmatis karena dalam penyampaian pesan seringkali menyembunyikan makna yang sebenarnya. Bisa dilihat dalam notes atau blog, aku merasa lebih nyaman menyebut sahabat, keluarga, atau orang yang aku suka dengan sebutan ‘Neptunus’ bahkan aku bisa menyebut Tuhan dengan nama ‘Neptunus’. Bila ditelaah secara semantik atau makna yang terkandung di dalam morfem, kata, frasa, dan kalimat yang bebas konteks, maka aku akan dituduh memuja dewa laut dalam artian yang sebenarnya. Padahal di setiap notes yang aku tulis pastilah konteksnya berbeda-beda.

Selama dua bulan ini aku berhubungan dengan orang yang semantik. Kesalahpahaman seringkali terjadi, sampai terakhir tadi pagi dan aku putuskan untuk tidak berkomunikasi lagi. Aku tidak bisa secara gamblang atau blak-blakan mengatakan ‘maksud’ dari pembicaraanku. Aku akan merasa lebih nyaman jika mengetahui lebih dulu pikiran dan perasaannya, lalu mulai menyampaikan pesan secara tidak langsung. Sayangnya makna dari pesan yang aku sampaikan menjadi ‘tidak jelas’ maknanya dan kesalahpahaman kembali terjadi.

Kembali lagi ke teori semantik dan pragmatik yang akhirnya mencerahkan:
Pragmatik dan semantik memiliki kesamaan objek bahasan, yaitu berhubungan dengan makna, tetapi perbedaan di antara mereka terletak pada perbedaan penggunaan verba to mean berarti : 1. What does X mean? (Apa artinya X) 2. What did you mean by X (Apa maksudmu dengan X). Dengan demikian dalam pragmatik makna diberi definisi dalam hubungannya dengan penutur atau pemakai bahasa, sedangkan dalam semantik, makna didefinisikan semata-mata sebagai ciri-ciri ungkapan-ungkapan dalam suatu bahasa tertentu, terpisah dari situasi, penutur dan petuturnya. (Sumber : Kompasiana)

Jadi sekarang jelas kenapa dia tidak mengerti situasi dan kondisi yang menyebabkan sebuah pesan itu aku sampaikan. Meskipun aku berusaha dengan sejelas-jelasnya menjelaskan situasi dan kondisi aku, juga berusaha mengerti situasi dan kondisi dia di sana, agar pesan yang aku sampaikan bisa diterima, nyatanya si semantik memaknai pesan terlepas dari konteksnya, terpisah dari situasi aku dan dia sendiri.

Semantik menelaah makna kalimat (sentence), sedangkan pragmatik adalah telaah makna tuturan (utterance). Semantik mempelajari makna yang terkandung di dalam morfem, kata, frasa, dan kalimat yang bebas konteks. Makna linguistik di sini adalah makna yang terdapat di dalam bahasa, yang distrukturkan di dalam dan oleh sistem bahasa, yang dipahami lebih kurang sama oleh para penutur dalam kegiatan berkomunikasi secara umum dan wajar (Subroto, 1999:111) (Sumber : Kompasiana)


Well, aku ga bisa sepenuhnya nyalahin dia. Dari sini aku belajar lagi tentang suatu ‘hubungan’ juga tentang ‘komunikasi’. Buktinya dari masalah sekecil itu saja bisa kebongkar lagi teori-teori linguistik yang udah lama ga aku baca. Hahaha kalau nanti kebetulan ketemu orang yang semantik harus mulai hati-hati menyusun kalimat, supaya maknanya jelas dan ga bikin salahpaham lagi.

Hujan udah berhenti!! Saatnya pulang :D

4 komentar:

  1. Kalo kata 99ers dulu mah, keep funky, be your self, no matter what they say :D
    Kalo ada yg menilai berbeda gpp, jgn lari dong.. Kalo semua berpikiran sama kan jadi ga menarik. Kadang kita ga bisa memaksakan org lain menerima kita apa adanya, karna perjalanan hidup yg manusia jalani telah membentuk alam sadarnya untuk menilai yang benar dan salah. Mungkin mereka awam dg dunia kita, dan kita pun awam dg dunia mereka. Jangan lari, hadapi agar saling memahami :D
    Kalo menurut aku sih ada selisih paham sm org ya bagus, berarti ada komunikasi utk menyampaikan yg dipikirkannya. Harus sama2 terbuka dan lapang hatinya utk saling menerima penjelasan sampe akhirnya saling menerima.
    IMHO

    BalasHapus
    Balasan
    1. iia ne.. aduh jaman kapan itu denger 99ers, jadi kangen suara akay yang nyanyi dracula hahaha. btw iia ne bagus :) tapi di sisi lain ga semua bisa terbuka dan saling menerima. aku udah coba dan dia tetep ga mau ngerti #halahcurhat

      Hapus
    2. Iya itu, wajib hukumnya terbuka hatinya biar ada yg bisa diterima. Jgn egois dong heyy 'kamu' yg disana. Ayo2 perbaiki :D
      *pdhl ga tau ini lg ngomongin siapa * :D

      Hapus
    3. Aku udah bicara baik-baik buat sama sama perbaikin diri ne... tapi ahsudahlah jawabannya males dan udahan. *seret ine ke dapur kwkwkw masa ngomongin orang di sini*

      Hapus